
Dan aku masih menggelapar di sini, di sudut keramaian dan kerlapkerlip lampu jalanan, dengan liur yang tak terbendung oleh desakan hasrat jiwa yang dahaga akan cumbu pagimu dan malam-malam yang melahirkan rintihan.
Sampai kapan kerontang ini kau biarkan menganga dan terbelah, bahkan semutpun merasa pedih tuk merayap ke jalan ini, sangat tandus, sekarat mengendus, mati atau mampus?
Dahagaku bukan untuk mengumbar nafsu atas nafas yang memburu saat kau mengambilnya satu-persatu di setiap liar rayuanmu
Hingga lampu jalanan tak sudi lagi berkelip,
pun aku tetap menanti janjimu, hai lelakiku ...
Sampai kapan kerontang ini kau biarkan menganga dan terbelah, bahkan semutpun merasa pedih tuk merayap ke jalan ini, sangat tandus, sekarat mengendus, mati atau mampus?
Dahagaku bukan untuk mengumbar nafsu atas nafas yang memburu saat kau mengambilnya satu-persatu di setiap liar rayuanmu
Hingga lampu jalanan tak sudi lagi berkelip,
pun aku tetap menanti janjimu, hai lelakiku ...