akulah embun
yang hadirkan kesucian
menetes dalam senyap, memoles bening atas kesuraman
menghantar nyawa baru bagi dedaun yang hampir layu
akulah setetes embun
yang bergulir pada tepi daun keladi
terombang-ambing angin pagi yang tak pasti
menunggu detik menggelindingkan atas tanah, lenyap tanpa arti
akulah sang embun pagi
masihkah tersisa setitik asa
sebelum mentari menyesap beningku
meninggalkanmu bersama rindu yang menggumpal pilu
Thursday, August 20, 2009
Setetes Embun
setetes embun yang terjatuh pasrah di daun keladi, terombang-ambing oleh bisikan angin yang tak pasti, kadang begitu halus, merdu, syahdu merayu. kadang tanpa suara, hampa, kerontang di penghujungnya.
dan setetes embun yang siap menggelinding, jatuh meresap pada kering tanah tanpa berharap kan membekas, masih menanti tiupan topan untuk melemparkannya dari atas daun keladi, untuk lenyap dalam senyap
dan setetes embun yang siap menggelinding, jatuh meresap pada kering tanah tanpa berharap kan membekas, masih menanti tiupan topan untuk melemparkannya dari atas daun keladi, untuk lenyap dalam senyap
Wednesday, August 19, 2009
KEINDAHAN ABADI
Puisi Kolaborasi
angin berhembus di antara kisikisi rambut
menggesek kerinduan, di antara ingin yang belum terjawab
mengapa kudengar resah di setiap helai rambut yang terjatuh,
sementara angin hanya titipkan satu hembusan,
kemudian berlalu tanpa mau tahu adakah luka yang tertinggal
karena ingin yang mengganggu,
selalu katakan, Tuhan beri aku perempuan,
dan perempuan beri aku Tuhan
adakah kau dapati malam memberimu janji
bahwa purnama akan selalu hadirkan terang bagi bumi,
tidakkah kau tahu, mendung tebal, halilintar bahkan gerhana
kan menghalangi indah yang kau nanti ?
meski alam menghalangi,
kutetap yakin akan rintangan adalah indah yang tetap abadi
keindahan abadi akan kau temukan di antara lumpur berpupur debu
jika kau mampu menyibaknya, dan temukan mutiara di sana
itulah keabadian sesungguhnya
dalam sekali singgah, lama kubiarkan bayang itu hadir,
separuh waktu dalam ingatku tertuju, hingga matahari ke peraduan
ah, tetap bangsat kau perempuan, menyesak dalam bayang
aku jatuh cinta ...
bilik kreasi, 180809
tautan kata antara Dewi Maharani dan Niki Osing
terimakasih untuk sahabatku Niki Osing, semoga berkenan
angin berhembus di antara kisikisi rambut
menggesek kerinduan, di antara ingin yang belum terjawab
mengapa kudengar resah di setiap helai rambut yang terjatuh,
sementara angin hanya titipkan satu hembusan,
kemudian berlalu tanpa mau tahu adakah luka yang tertinggal
karena ingin yang mengganggu,
selalu katakan, Tuhan beri aku perempuan,
dan perempuan beri aku Tuhan
adakah kau dapati malam memberimu janji
bahwa purnama akan selalu hadirkan terang bagi bumi,
tidakkah kau tahu, mendung tebal, halilintar bahkan gerhana
kan menghalangi indah yang kau nanti ?
meski alam menghalangi,
kutetap yakin akan rintangan adalah indah yang tetap abadi
keindahan abadi akan kau temukan di antara lumpur berpupur debu
jika kau mampu menyibaknya, dan temukan mutiara di sana
itulah keabadian sesungguhnya
dalam sekali singgah, lama kubiarkan bayang itu hadir,
separuh waktu dalam ingatku tertuju, hingga matahari ke peraduan
ah, tetap bangsat kau perempuan, menyesak dalam bayang
aku jatuh cinta ...
bilik kreasi, 180809
tautan kata antara Dewi Maharani dan Niki Osing
terimakasih untuk sahabatku Niki Osing, semoga berkenan
Sunday, August 16, 2009
UNTUKMU, BAPAK
Untukmu, Bapak
Betapa sulitnya mencari serpihan kata untuk kupunguti dan menguntainya menjadi puisi. Satu persatu huruf enggan kujumput dan kurajut pada lembaran kanvas putih yang sedia kupersembahkan untukmu.
Ya Bapak, untukmu.
Untuk darah yang mengalir deras pada nadi-nadiku, untuk serpihan batu di kepalaku, untuk kokohnya karang di hatiku. Bukankah semua ini milikmu, Bapak ?
Pun jiwa patriot yang terpatri abadi di dada ini, bukan Ahmad Yani punya, bukan W.R Soepratman punya, bukan pula Oerip Soemohardjo punya, walau aku terlahir di kota yang sama. Kau yang mematrinya, Bapak.
Langit senja hanya mampu buat ragamu renta, tanpa bisa menendang egomu yang bersarang bagai batu karang. Kau tak pernah lelah untuk tetap bertahan, pun kala botol-botol infus mula menjadikanmu langganan.
Bersama sang waktu, karang di hatiku perlahan mengikis, mengapa tak kulihat karang di hatimu menipis ?
Jika kumemilih jalan bagai si bisutuli, bukan berarti aku tak berbakti.
Pada sudut kesunyian hati, setiap bait do'a tanpa henti kupanjatkan pada Illahi Rabbi untukmu, Bapak.
Untuk hidupmu, untuk kesehatanmu dan untuk dunia akheratmu.
Betapa sulitnya mencari serpihan kata untuk kupunguti dan menguntainya menjadi puisi. Satu persatu huruf enggan kujumput dan kurajut pada lembaran kanvas putih yang sedia kupersembahkan untukmu.
Ya Bapak, untukmu.
Untuk darah yang mengalir deras pada nadi-nadiku, untuk serpihan batu di kepalaku, untuk kokohnya karang di hatiku. Bukankah semua ini milikmu, Bapak ?
Pun jiwa patriot yang terpatri abadi di dada ini, bukan Ahmad Yani punya, bukan W.R Soepratman punya, bukan pula Oerip Soemohardjo punya, walau aku terlahir di kota yang sama. Kau yang mematrinya, Bapak.
Langit senja hanya mampu buat ragamu renta, tanpa bisa menendang egomu yang bersarang bagai batu karang. Kau tak pernah lelah untuk tetap bertahan, pun kala botol-botol infus mula menjadikanmu langganan.
Bersama sang waktu, karang di hatiku perlahan mengikis, mengapa tak kulihat karang di hatimu menipis ?
Jika kumemilih jalan bagai si bisutuli, bukan berarti aku tak berbakti.
Pada sudut kesunyian hati, setiap bait do'a tanpa henti kupanjatkan pada Illahi Rabbi untukmu, Bapak.
Untuk hidupmu, untuk kesehatanmu dan untuk dunia akheratmu.
Balada Perawan Terluka
berpendar lampu di trotoar
teriknya mentari, pengapnya hari
mengaduk isi perutku, memabukkan cacing-cacing kelaparan
duniaku hitam dipenuhi byarpet bintang-bintang, membuatku nyaris masuk longkang
terpontang-panting langkahku di jalanan
hingga tercompang-camping baju yang kukenakan
tatap mata keheranan ataukah menjijikkan yang kudapat
saat terlihat jelas jejak merah di seluruh tubuhku habis kau lumat
lihatlah ke mari !
jika kau tak juga menampakkan diri
akan kutanggalkan semua yang menutupi maluku
agar seisi jagat kemunafikan ini tahu, kaulah yang merobek-robek keperawananku, mencompang-campingkan kehidupanku!
bibir ini masih basah, bercak sisa perawanku masih merah
haruskah janin ini terlahir tanpa ayah, atau kursi aborsi kan menjadikannya jenazah ... ?
kenapa tak kau katakan sedari awal, jika kau seorang bajingan ?!
teriknya mentari, pengapnya hari
mengaduk isi perutku, memabukkan cacing-cacing kelaparan
duniaku hitam dipenuhi byarpet bintang-bintang, membuatku nyaris masuk longkang
terpontang-panting langkahku di jalanan
hingga tercompang-camping baju yang kukenakan
tatap mata keheranan ataukah menjijikkan yang kudapat
saat terlihat jelas jejak merah di seluruh tubuhku habis kau lumat
lihatlah ke mari !
jika kau tak juga menampakkan diri
akan kutanggalkan semua yang menutupi maluku
agar seisi jagat kemunafikan ini tahu, kaulah yang merobek-robek keperawananku, mencompang-campingkan kehidupanku!
bibir ini masih basah, bercak sisa perawanku masih merah
haruskah janin ini terlahir tanpa ayah, atau kursi aborsi kan menjadikannya jenazah ... ?
kenapa tak kau katakan sedari awal, jika kau seorang bajingan ?!
Telah Kutitipkan Bangsa dan Negara Ini Padamu
hamparan zamrut khatulistiwa
gemah ripah loh jinawi
murah sandang murah pangan
industri bagai hiasan negeri
tawa bocah-bocah sekolah memecah pagi
semua tersenyum dan beraroma harum
saat kumelangkah gagah
menitipkan bangsa dan negara ini
tanpa ragu padamu
kini kukembali
ternganga, terpaku berdiri
bangsaaaaaaattt ! kau apakan hingga negeriku seperti ini ????!!!
gemah ripah loh jinawi
murah sandang murah pangan
industri bagai hiasan negeri
tawa bocah-bocah sekolah memecah pagi
semua tersenyum dan beraroma harum
saat kumelangkah gagah
menitipkan bangsa dan negara ini
tanpa ragu padamu
kini kukembali
ternganga, terpaku berdiri
bangsaaaaaaattt ! kau apakan hingga negeriku seperti ini ????!!!
Tuesday, August 11, 2009
Dahaga Sang Penjaja Cinta

Dan aku masih menggelapar di sini, di sudut keramaian dan kerlapkerlip lampu jalanan, dengan liur yang tak terbendung oleh desakan hasrat jiwa yang dahaga akan cumbu pagimu dan malam-malam yang melahirkan rintihan.
Sampai kapan kerontang ini kau biarkan menganga dan terbelah, bahkan semutpun merasa pedih tuk merayap ke jalan ini, sangat tandus, sekarat mengendus, mati atau mampus?
Dahagaku bukan untuk mengumbar nafsu atas nafas yang memburu saat kau mengambilnya satu-persatu di setiap liar rayuanmu
Hingga lampu jalanan tak sudi lagi berkelip,
pun aku tetap menanti janjimu, hai lelakiku ...
Sampai kapan kerontang ini kau biarkan menganga dan terbelah, bahkan semutpun merasa pedih tuk merayap ke jalan ini, sangat tandus, sekarat mengendus, mati atau mampus?
Dahagaku bukan untuk mengumbar nafsu atas nafas yang memburu saat kau mengambilnya satu-persatu di setiap liar rayuanmu
Hingga lampu jalanan tak sudi lagi berkelip,
pun aku tetap menanti janjimu, hai lelakiku ...
Monday, August 10, 2009
LONELY
Sepi ini beraroma tubuhmu, dengus nafasmu, gelitik nakal jemarimu, menyatu bagai candu
Aku mendamba, aku merindu, aku menagih, serpihan kasihmu yang tercecer di antara temaram bintang dan pucat wajah rembulan ...
Semenjak langit mula memerah, hingga bertukar kelabu resah, siksa cintamu ikhlas kukunyah
Bahkan saat sebilah pisau kau titipkan di tepi hatiku, dengan pasrah kunikmati sayat demi sayat yang mulai melumpuhkan hasrat, nyaris sekarat lalu memaksaku untuk tetap di sini, menunggu dan terus menunggu hingga menjelang pagi
Sepi ini, sungguh bagai candu di setiap penghujung malamku ....
Aku mendamba, aku merindu, aku menagih, serpihan kasihmu yang tercecer di antara temaram bintang dan pucat wajah rembulan ...
Semenjak langit mula memerah, hingga bertukar kelabu resah, siksa cintamu ikhlas kukunyah
Bahkan saat sebilah pisau kau titipkan di tepi hatiku, dengan pasrah kunikmati sayat demi sayat yang mulai melumpuhkan hasrat, nyaris sekarat lalu memaksaku untuk tetap di sini, menunggu dan terus menunggu hingga menjelang pagi
Sepi ini, sungguh bagai candu di setiap penghujung malamku ....
Saturday, August 8, 2009
GELAK KITA, LUKA KITA
sapamu riang
kusambut senang
ada luka terbersit di antaranya
dan di antara perih yang menggerus dada
di antara sesak yang tak terlihat, kita masih bisa tergelak
kita tertawakan luka
luka yang indah, katamu
kita tertawakan indah
indah yang melukakan, kataku
kita masih tergelak di antara sesak
bahkan kita tertawakan airmata yang mengalir
tanpa bisa kita bedakan, airmata luka ataukah bahagia
hidup itu indah tapi hancur, katamu tergelak
hidup ini hancur tapi indah, kataku sesak
dan kembali kita sama-sama tergelak
**mentertawakan kepedihan dan keindahan yang mewarnai kehidupan
dengan kedua tangan saling menggenggam, saling memberi kekuatan ...
kusambut senang
ada luka terbersit di antaranya
dan di antara perih yang menggerus dada
di antara sesak yang tak terlihat, kita masih bisa tergelak
kita tertawakan luka
luka yang indah, katamu
kita tertawakan indah
indah yang melukakan, kataku
kita masih tergelak di antara sesak
bahkan kita tertawakan airmata yang mengalir
tanpa bisa kita bedakan, airmata luka ataukah bahagia
hidup itu indah tapi hancur, katamu tergelak
hidup ini hancur tapi indah, kataku sesak
dan kembali kita sama-sama tergelak
**mentertawakan kepedihan dan keindahan yang mewarnai kehidupan
dengan kedua tangan saling menggenggam, saling memberi kekuatan ...
spore, 080809
** DM **
DEDIKASI UNTUK KAKAKKU TERCINTA : INEZ PECIA ZEN
LOVE YOU SIST :-)
Wednesday, August 5, 2009
BUNTU
kumencari sebuah kata
untuk kutulis pada sebilah kaca
ujung jari telah siap menempel di sana mengukirnya
namun tak satupun kutemui kata yang bermakna ..
mengapa ....
haruskah aku bertanya mengapa?
jika siluet ungu itu selalu menari-nari di pelupuk mata ..
membuka tangan ... tersenyum dan mengangguk tulus menyapa
aku masih terpaku membisu ... tanpa bisa berbuat sesuatu .....
ada yang membelai dari dalam sini
ketika kusangka siluet itu hanyalah bayangan semu
semburat jingga dari kaki langit membuatnya nampak indah dan nyata
lagi tak sanggup aku kedipkan mata ... mulutku ternganga ....
ah buntu !
buntu yang mengunci malu
buntu yang membuang ragu
buntu yang kian terasa syahdu
buntu ...
karena tak aku dapatkan kata selain dirimu
dirimu ....
pesonamu ...
dalam siluet ungu ...
yang membuatku ...sungguh
BUNTU !
untuk kutulis pada sebilah kaca
ujung jari telah siap menempel di sana mengukirnya
namun tak satupun kutemui kata yang bermakna ..
mengapa ....
haruskah aku bertanya mengapa?
jika siluet ungu itu selalu menari-nari di pelupuk mata ..
membuka tangan ... tersenyum dan mengangguk tulus menyapa
aku masih terpaku membisu ... tanpa bisa berbuat sesuatu .....
ada yang membelai dari dalam sini
ketika kusangka siluet itu hanyalah bayangan semu
semburat jingga dari kaki langit membuatnya nampak indah dan nyata
lagi tak sanggup aku kedipkan mata ... mulutku ternganga ....
ah buntu !
buntu yang mengunci malu
buntu yang membuang ragu
buntu yang kian terasa syahdu
buntu ...
karena tak aku dapatkan kata selain dirimu
dirimu ....
pesonamu ...
dalam siluet ungu ...
yang membuatku ...sungguh
BUNTU !
Subscribe to:
Comments (Atom)