Thursday, March 8, 2018

BELENGGU

Malam basah
Setelah siang kerontang
Angin berbisik, syahdu
Aku di sini terpaku rindu
Duhai
Mengapa tak kulihat purnama
Ini sudah hendak berganti hari
Langit di timur masih gulita
Doa-doa berubah mantra
Mengharap kemarau turunkan hujan
Sementara kaki terbelenggu
Sebongkah batu
Bersarang di kepalaku

Perempuan Bermata Lelah

Jelang malam
Siluetmu membayang
Sesak dada lebam
Setengah asa nyaris hilang
Perempuan bermata lelah
Lukisan raga dan hatimu nan gundah
Oleh gerak langkah terpasung dogma
Hingga menangis pun tak lagi kuasa
Aku tak pernah menyesal terlahir dari rahimmu
Rahim tangguh yang tak pernah mengeluh
Kau ajarkan arti setia walau terluka
Tapi sungguh, aku tak bisa melakukannya!
Perempuan bermata lelah
Terngiang keroncong dan campursari
Yang sering kau dendangkan setiap hari
Suaramu bergetar, matamu terpejam, menikmati perihnya hati
Ingatkah Ibu
Aku berjanji hendak membahagiakanmu
Membebaskan belenggu jiwamu
Namun kau memilih berlalu
Dengan dua patah kata
"Aku lelah"

Berjalan di Bawah Hujan

derasnya tak halangi
tetesan peluh
membasuh gelisah
siang nan gundah
tiada keramahan
pada diri yang kelelahan
pun pepohonan rindang
bahkan ilalang
kuharap menawarkan beranda
untuk persinggahan
semua sibuk meratapi diri
seperti suara kecapi
menjelma desingan peluru di telingaku
hingga tembang anak negeri
tak lagi merdu di sini
kacau balau
porak poranda
oleh corong-corong
atas nama kebenaran
memutar fakta
membingungkan minda para jelata
tanah kering berubah banjir
suara-suara sumbang dan nyinyir
semakin hitamkan pandangan
bumi berputar bagai gasing
membuat mual dan pusing
hujan yang selalu dinanti
mengapa akhirnya kau khianati?


Lukisan Malam Yang Berserak

tiba-tiba sebuah ketukan memecah hening
menyentak lamunan yang membuat pening
sepasang matamu setia menanti jawaban
sementara kata-kataku kembali tertelan
dulu, kita melukis malam bersama
berbagi kanvas, berbagi kuas
merenda tepian cakrawala
menangkap bintang-bintang liar
menata hingga sinarnya teratur sempurna
lalu, hujan menghapus semuanya
tawamu lenyap, darahku seketika membeku
tiupan angin menghempas arsiran rindu
menghitam kelamkan warna-warni yang nyaris jadi pelangi
seribu kali kau memberi isyarat
seribu kali pula hatiku terlapisi karat
kanvas kini terkoyak, semua kuas telah rusak
lukisan malam pun merepih dan berserak

Bogor, 08032018