Thursday, August 20, 2009

AKULAH EMBUN

akulah embun
yang hadirkan kesucian
menetes dalam senyap, memoles bening atas kesuraman
menghantar nyawa baru bagi dedaun yang hampir layu

akulah setetes embun
yang bergulir pada tepi daun keladi
terombang-ambing angin pagi yang tak pasti
menunggu detik menggelindingkan atas tanah, lenyap tanpa arti

akulah sang embun pagi
masihkah tersisa setitik asa
sebelum mentari menyesap beningku
meninggalkanmu bersama rindu yang menggumpal pilu

Setetes Embun

setetes embun yang terjatuh pasrah di daun keladi, terombang-ambing oleh bisikan angin yang tak pasti, kadang begitu halus, merdu, syahdu merayu. kadang tanpa suara, hampa, kerontang di penghujungnya.

dan setetes embun yang siap menggelinding, jatuh meresap pada kering tanah tanpa berharap kan membekas, masih menanti tiupan topan untuk melemparkannya dari atas daun keladi, untuk lenyap dalam senyap