dan kesabaran ini, sungguh tiada berbatas lagi, saat gurat-gurat ketulusan terukir jelas pada dinding-dinding retak hatimu.
satu persatu cermin keegoan pun jatuh keping demi keping, dan meninggalkan tapak darah pada jejak-jejak yang terinjak.
masihkah harus kubertanya tentang sekuntum rindu yang tergolek di halaman, sementara sekulum senyummu tertinggal jelas pada selembar kertas yang mengikatnya ....
Bogor, 26092010
** DM **
Thursday, October 7, 2010
Tuesday, September 21, 2010
Ketika Anak-anakku Bertanya Tentang Ibu Pertiwi
hamparan zamrut khatulistiwa
gemah ripah loh jinawi
murah sandang murah pangan
industri bagai hiasan negeri
tawa bocah-bocah sekolah memecah pagi
alam tersenyum, angin beraroma melati
itu dulu,nak!
aku menjawab bangga
saat anak-anakku betanya
benarkah ibu pertiwi kaya raya?
Lantas aku bernyanyi
Hingga berurai airmata
Mengisahkan kekayaan negeri
Yang telah dicuri dan digerogoti
Tanpa bisa mereka nikmati
Ketika anak-anakku kembali bertanya
Kenapa pencurinya nggak ditangkap polisi?
Kita tak lagi tahu mana polisi mana pencuri, Nak
Mereka bernaung di bawah atap yang sama
Bahkan baju yang mereka kenakan pun berwarna serupa ...
Ku menjawab tanpa menghilangkan kebanggaanku pada ibu pertiwi
yang semakin tua dan semakin hampir tak mampu berdiri.
Bogor, Agustus 2010
** DM **
gemah ripah loh jinawi
murah sandang murah pangan
industri bagai hiasan negeri
tawa bocah-bocah sekolah memecah pagi
alam tersenyum, angin beraroma melati
itu dulu,nak!
aku menjawab bangga
saat anak-anakku betanya
benarkah ibu pertiwi kaya raya?
Lantas aku bernyanyi
Hingga berurai airmata
Mengisahkan kekayaan negeri
Yang telah dicuri dan digerogoti
Tanpa bisa mereka nikmati
Ketika anak-anakku kembali bertanya
Kenapa pencurinya nggak ditangkap polisi?
Kita tak lagi tahu mana polisi mana pencuri, Nak
Mereka bernaung di bawah atap yang sama
Bahkan baju yang mereka kenakan pun berwarna serupa ...
Ku menjawab tanpa menghilangkan kebanggaanku pada ibu pertiwi
yang semakin tua dan semakin hampir tak mampu berdiri.
Bogor, Agustus 2010
** DM **
MUNAJAT SEORANG PEREMPUAN
Tubuhnya menggeliat dalam ketidak berdayaan
sebelah tangannya sibuk menggapai impian
sementara sebelah lagi tak kuasa melepas dogma yang harus dijalankan
perempuan itu bermunajat menepis cibiran setan menghujat
matanya terpejam memutar setiap kenangan
berkubang peluh dan airmata berlinangan
melangkah tak tentu arah
pada setiap jengkal tanah
tertinggal lukisan luka berdarah
saat kelelahan menghadang
kekalahan kembali menantang
sepasang retina hampa tanpa cahaya
di antara kebisuan batu nisan
bibirnya bergetar menyebut asma Tuhan
aku di sini , Tuhan !
tanpa lelah mencariMu dalam jiwa kekalutan
bersama kerinduan yang membuncah akan kasihMu
rengkuh hidupku, karena aku tak ingin lagi Engkau tinggalkan ...
Bogor, 26082010
**DM**
sebelah tangannya sibuk menggapai impian
sementara sebelah lagi tak kuasa melepas dogma yang harus dijalankan
perempuan itu bermunajat menepis cibiran setan menghujat
matanya terpejam memutar setiap kenangan
berkubang peluh dan airmata berlinangan
melangkah tak tentu arah
pada setiap jengkal tanah
tertinggal lukisan luka berdarah
saat kelelahan menghadang
kekalahan kembali menantang
sepasang retina hampa tanpa cahaya
di antara kebisuan batu nisan
bibirnya bergetar menyebut asma Tuhan
aku di sini , Tuhan !
tanpa lelah mencariMu dalam jiwa kekalutan
bersama kerinduan yang membuncah akan kasihMu
rengkuh hidupku, karena aku tak ingin lagi Engkau tinggalkan ...
Bogor, 26082010
**DM**
ENTAH
pada sisasisa kuasa mentari
di ujung setitik sinar yang tertinggal
senyuman senja menyapa
membawa salam rindu sepinya malam
adakah kau mengingatku, wahai pengelana?
saat rintihmu membahana pada dinding-dinding kesunyian
saat airmatamu menggenang di setiap sudut kelamku
luka hati yang berdarah hingga bernanah
tangis jiwamu yang membungkam nyanyian seribu bintang ...
kini kau tertawa menggenggam dendam
dendam atas sejatinya cinta yang kau puja
dendam atas segala mimpi berkelana di atas pelangi
dendam atas segala ambisi yang menggumpal di hati
dan kau lupa akan realita bukanlah seindah siluet bidadari!
sang pengelana tertunduk, terpuruk
melepas ikatan pada sang malam
ingkari setia pada kesunyian
tanpa keinginan tuk kembali
menggapai kesejatian cinta
yang entah ....
Bogor, 18092010
** DM **
di ujung setitik sinar yang tertinggal
senyuman senja menyapa
membawa salam rindu sepinya malam
adakah kau mengingatku, wahai pengelana?
saat rintihmu membahana pada dinding-dinding kesunyian
saat airmatamu menggenang di setiap sudut kelamku
luka hati yang berdarah hingga bernanah
tangis jiwamu yang membungkam nyanyian seribu bintang ...
kini kau tertawa menggenggam dendam
dendam atas sejatinya cinta yang kau puja
dendam atas segala mimpi berkelana di atas pelangi
dendam atas segala ambisi yang menggumpal di hati
dan kau lupa akan realita bukanlah seindah siluet bidadari!
sang pengelana tertunduk, terpuruk
melepas ikatan pada sang malam
ingkari setia pada kesunyian
tanpa keinginan tuk kembali
menggapai kesejatian cinta
yang entah ....
Bogor, 18092010
** DM **
RINAI KEHIDUPAN
Rinai hujan berirama tembang pegunungan
Gelak bocah-bocah memecah setiap celah
Kaki-kaki telanjang berkecipak riang
Hingga sekawanan katak membisu tak beranjak
Di sini kami bersama menyulam asa
Dengan sisa keyakinan yang tak pernah sirna
Membelah duka, mengurainya dengan jemari cinta
Seperti sinar mentari yang menembus kebekuan pagi
Keramahan alam mengajarkan kesyukuran
Lapar dan dahaga jadikan ujian iman
Dekatkan jiwa menjawab kerinduan
Ruh kami milikMu ...
Jadikan kami kekasihMu ..
Yaa Rabb ... Yaa Rabb ... !
Rinai hujan masih terdengar
Seiring gema AsmaMu indah berkumandang
Menyisipkan harapan di antara do'a yang terlafaskan
Di antara luka dan tawa yang senantiasa kami sandang ...
Bogor, 21092010
**DM**
Gelak bocah-bocah memecah setiap celah
Kaki-kaki telanjang berkecipak riang
Hingga sekawanan katak membisu tak beranjak
Di sini kami bersama menyulam asa
Dengan sisa keyakinan yang tak pernah sirna
Membelah duka, mengurainya dengan jemari cinta
Seperti sinar mentari yang menembus kebekuan pagi
Keramahan alam mengajarkan kesyukuran
Lapar dan dahaga jadikan ujian iman
Dekatkan jiwa menjawab kerinduan
Ruh kami milikMu ...
Jadikan kami kekasihMu ..
Yaa Rabb ... Yaa Rabb ... !
Rinai hujan masih terdengar
Seiring gema AsmaMu indah berkumandang
Menyisipkan harapan di antara do'a yang terlafaskan
Di antara luka dan tawa yang senantiasa kami sandang ...
Bogor, 21092010
**DM**
Subscribe to:
Comments (Atom)