Saturday, October 10, 2009
Friday, October 2, 2009
Lebaran Sumbang
terkumpul banyak tawa dari banyak kepala yang terdengar sumbang di antara riuhnya kata maaf, peluk cium dan airmata.
kita, hanyalah nyawanyawa yang mengingkari hati mencoba saling memahami bahwa ada peperangan yang bergejolak dan hanya bisa meledak kala ranjang dan bantal terbelah oleh lelah.
seiring gema takbir sepagi tadi, hingga sisasisa masakan yang kita nikmati di atas padang rumput tanpa tikar tergelar menjelang petang, ada gelak riang ....
walau terdengar begitu sumbang
kita, hanyalah nyawanyawa yang mengingkari hati mencoba saling memahami bahwa ada peperangan yang bergejolak dan hanya bisa meledak kala ranjang dan bantal terbelah oleh lelah.
seiring gema takbir sepagi tadi, hingga sisasisa masakan yang kita nikmati di atas padang rumput tanpa tikar tergelar menjelang petang, ada gelak riang ....
walau terdengar begitu sumbang
Sepenggal Kisah
sepenggal kisah yang kutitipkan pada rembulan, terbungkus rapi tanpa dinodai percikan ludah angin malam yang nakal. karena sejak mula langit menggelar terpal hitam di atasnya, hingga sang surya mulai mengetuk pintu jagad raya, dewi malam itu tak juga menampakkan keindahannya.
akahkah sepenggal kisah itu akan tetap terbungkus bersama harapanku yang pupus ...
aku akan tetap menunggu kedatanganmu, hai rembulan ...
akahkah sepenggal kisah itu akan tetap terbungkus bersama harapanku yang pupus ...
aku akan tetap menunggu kedatanganmu, hai rembulan ...
Bayanganmu
sadarkah, bahwa kau berjalan tanpa bayangan. dia tertinggal di sini, dan enggan mengikutimu lagi. karena dia tahu, hatiku telah penuh oleh gumpalan rindu yang setiap saat kau tiupkan dengan kejam dan berlalu tanpa perasaan.
dan lihatlah, aku tersenyum puas saat bayangan itu mencumbu dan mendekapku hingga tertidur pulas ...
dan lihatlah, aku tersenyum puas saat bayangan itu mencumbu dan mendekapku hingga tertidur pulas ...
Surat Cinta
hari ini cepatlah pulang selepas kau tuntaskan tetesan peluhmu, dan mendekatlah pada sebuah meja kecil di sudut ruang kerjamu, karena di sana telah kutuliskan sebuah surat cinta untukmu, kekasihku ...
secangkir kopi dengan gula yang tak sempat kuaduk pun telah siap menemanimu mengeja kata demi kata yang kususun tanpa mampu kubaca, karena aku malu pada hatiku yang tak pernah mau menahan diri untuk tak mengungkap semua rahasia hati ..
sayang, maukah kau menyimpan surat cinta itu di dalam hatimu dengan rapi jika telah selesai kau baca nanti ?
dan andai nanti kita bertemu, anggaplah kau tak pernah tahu tentang surat itu
karena aku terlalu malu untuk mengatakan bahwa aku mencintaimu ..
secangkir kopi dengan gula yang tak sempat kuaduk pun telah siap menemanimu mengeja kata demi kata yang kususun tanpa mampu kubaca, karena aku malu pada hatiku yang tak pernah mau menahan diri untuk tak mengungkap semua rahasia hati ..
sayang, maukah kau menyimpan surat cinta itu di dalam hatimu dengan rapi jika telah selesai kau baca nanti ?
dan andai nanti kita bertemu, anggaplah kau tak pernah tahu tentang surat itu
karena aku terlalu malu untuk mengatakan bahwa aku mencintaimu ..
Mencintaimu ..
seperti kumenyeduh secangkir kopi saat mentari tersenyum hangat, pun ketika langit berselaput awan gelap. manis dan getirnya hanya terasa saat lidah mengecap. namun kehangatan itu menjalar keseluruh urat nadi yang membuatku terpejam menikmati betapa manis dan getir menyatu dengan darah yang memberiku gairah mencipta pelangi setelah guyuran hujan sepanjang hari.
mencintaimu
ah, hanya kau dan aku yang tahu ...
mencintaimu
ah, hanya kau dan aku yang tahu ...
Kembali Kupilih Sunyi
sunyi ini kembali terpilih untuk menemaniku, membelai hati dan meluruhkan kegundahanku.
saat sepasang lenteraku tak lagi mampu memandang bayangmu pada bening permata , semua memudar seiring rasa memelas, pada setiap titik hujan yang membuyarkan angan.
aku terkurung pada dua pilihan, di mana cinta harus kujalin dengan menutup mata, ataukah realita manusiawi yang harus mengalahkan ego duniawi. aku tak buta, tapi hatiku pun punya rasa, rasa yang sudah tertanam begitu dalam, hingga aku tak berani mencabutnya. berikan tanganmu untuk melakukannya, aku pasti mampu menikmati kesakitan atas namamu.
pada ujung malam yang masih setia menanti dengan bahunya untukku bersandar, kurentangkan kedua tangan dan merengkuhnya dalam dekap kerinduan. kucumbui kesunyian dengan birahi terkunci, tanpa rasa dan keinginan mencapai puncak kepuasan. aku ingin bermain cinta bersamanya tanpa hendak berpaling pada selingkuh semu yang melahirkan resah.
kembali kupilih sunyi, menyimpan rindumu pada lipatan malam, mengecup indah bayangmu bersama salam penghabisan ...
saat sepasang lenteraku tak lagi mampu memandang bayangmu pada bening permata , semua memudar seiring rasa memelas, pada setiap titik hujan yang membuyarkan angan.
aku terkurung pada dua pilihan, di mana cinta harus kujalin dengan menutup mata, ataukah realita manusiawi yang harus mengalahkan ego duniawi. aku tak buta, tapi hatiku pun punya rasa, rasa yang sudah tertanam begitu dalam, hingga aku tak berani mencabutnya. berikan tanganmu untuk melakukannya, aku pasti mampu menikmati kesakitan atas namamu.
pada ujung malam yang masih setia menanti dengan bahunya untukku bersandar, kurentangkan kedua tangan dan merengkuhnya dalam dekap kerinduan. kucumbui kesunyian dengan birahi terkunci, tanpa rasa dan keinginan mencapai puncak kepuasan. aku ingin bermain cinta bersamanya tanpa hendak berpaling pada selingkuh semu yang melahirkan resah.
kembali kupilih sunyi, menyimpan rindumu pada lipatan malam, mengecup indah bayangmu bersama salam penghabisan ...
Lentera Tak Bertuan
Lentera Tak Bertuan
sebuah lentera tak bertuan
menepi pada sisi keheningan
tetap berpendar pertahankan cahaya buramnya
demi sekotak harapan yang diidamkan
tak perlu dipertanyakan
mengapa ia masih tetap menyala
walaupun jiwa tak lagi bernyawa ...
sebuah lentera tak bertuan
menepi pada sisi keheningan
tetap berpendar pertahankan cahaya buramnya
demi sekotak harapan yang diidamkan
tak perlu dipertanyakan
mengapa ia masih tetap menyala
walaupun jiwa tak lagi bernyawa ...
Thursday, August 20, 2009
AKULAH EMBUN
akulah embun
yang hadirkan kesucian
menetes dalam senyap, memoles bening atas kesuraman
menghantar nyawa baru bagi dedaun yang hampir layu
akulah setetes embun
yang bergulir pada tepi daun keladi
terombang-ambing angin pagi yang tak pasti
menunggu detik menggelindingkan atas tanah, lenyap tanpa arti
akulah sang embun pagi
masihkah tersisa setitik asa
sebelum mentari menyesap beningku
meninggalkanmu bersama rindu yang menggumpal pilu
yang hadirkan kesucian
menetes dalam senyap, memoles bening atas kesuraman
menghantar nyawa baru bagi dedaun yang hampir layu
akulah setetes embun
yang bergulir pada tepi daun keladi
terombang-ambing angin pagi yang tak pasti
menunggu detik menggelindingkan atas tanah, lenyap tanpa arti
akulah sang embun pagi
masihkah tersisa setitik asa
sebelum mentari menyesap beningku
meninggalkanmu bersama rindu yang menggumpal pilu
Setetes Embun
setetes embun yang terjatuh pasrah di daun keladi, terombang-ambing oleh bisikan angin yang tak pasti, kadang begitu halus, merdu, syahdu merayu. kadang tanpa suara, hampa, kerontang di penghujungnya.
dan setetes embun yang siap menggelinding, jatuh meresap pada kering tanah tanpa berharap kan membekas, masih menanti tiupan topan untuk melemparkannya dari atas daun keladi, untuk lenyap dalam senyap
dan setetes embun yang siap menggelinding, jatuh meresap pada kering tanah tanpa berharap kan membekas, masih menanti tiupan topan untuk melemparkannya dari atas daun keladi, untuk lenyap dalam senyap
Wednesday, August 19, 2009
KEINDAHAN ABADI
Puisi Kolaborasi
angin berhembus di antara kisikisi rambut
menggesek kerinduan, di antara ingin yang belum terjawab
mengapa kudengar resah di setiap helai rambut yang terjatuh,
sementara angin hanya titipkan satu hembusan,
kemudian berlalu tanpa mau tahu adakah luka yang tertinggal
karena ingin yang mengganggu,
selalu katakan, Tuhan beri aku perempuan,
dan perempuan beri aku Tuhan
adakah kau dapati malam memberimu janji
bahwa purnama akan selalu hadirkan terang bagi bumi,
tidakkah kau tahu, mendung tebal, halilintar bahkan gerhana
kan menghalangi indah yang kau nanti ?
meski alam menghalangi,
kutetap yakin akan rintangan adalah indah yang tetap abadi
keindahan abadi akan kau temukan di antara lumpur berpupur debu
jika kau mampu menyibaknya, dan temukan mutiara di sana
itulah keabadian sesungguhnya
dalam sekali singgah, lama kubiarkan bayang itu hadir,
separuh waktu dalam ingatku tertuju, hingga matahari ke peraduan
ah, tetap bangsat kau perempuan, menyesak dalam bayang
aku jatuh cinta ...
bilik kreasi, 180809
tautan kata antara Dewi Maharani dan Niki Osing
terimakasih untuk sahabatku Niki Osing, semoga berkenan
angin berhembus di antara kisikisi rambut
menggesek kerinduan, di antara ingin yang belum terjawab
mengapa kudengar resah di setiap helai rambut yang terjatuh,
sementara angin hanya titipkan satu hembusan,
kemudian berlalu tanpa mau tahu adakah luka yang tertinggal
karena ingin yang mengganggu,
selalu katakan, Tuhan beri aku perempuan,
dan perempuan beri aku Tuhan
adakah kau dapati malam memberimu janji
bahwa purnama akan selalu hadirkan terang bagi bumi,
tidakkah kau tahu, mendung tebal, halilintar bahkan gerhana
kan menghalangi indah yang kau nanti ?
meski alam menghalangi,
kutetap yakin akan rintangan adalah indah yang tetap abadi
keindahan abadi akan kau temukan di antara lumpur berpupur debu
jika kau mampu menyibaknya, dan temukan mutiara di sana
itulah keabadian sesungguhnya
dalam sekali singgah, lama kubiarkan bayang itu hadir,
separuh waktu dalam ingatku tertuju, hingga matahari ke peraduan
ah, tetap bangsat kau perempuan, menyesak dalam bayang
aku jatuh cinta ...
bilik kreasi, 180809
tautan kata antara Dewi Maharani dan Niki Osing
terimakasih untuk sahabatku Niki Osing, semoga berkenan
Sunday, August 16, 2009
UNTUKMU, BAPAK
Untukmu, Bapak
Betapa sulitnya mencari serpihan kata untuk kupunguti dan menguntainya menjadi puisi. Satu persatu huruf enggan kujumput dan kurajut pada lembaran kanvas putih yang sedia kupersembahkan untukmu.
Ya Bapak, untukmu.
Untuk darah yang mengalir deras pada nadi-nadiku, untuk serpihan batu di kepalaku, untuk kokohnya karang di hatiku. Bukankah semua ini milikmu, Bapak ?
Pun jiwa patriot yang terpatri abadi di dada ini, bukan Ahmad Yani punya, bukan W.R Soepratman punya, bukan pula Oerip Soemohardjo punya, walau aku terlahir di kota yang sama. Kau yang mematrinya, Bapak.
Langit senja hanya mampu buat ragamu renta, tanpa bisa menendang egomu yang bersarang bagai batu karang. Kau tak pernah lelah untuk tetap bertahan, pun kala botol-botol infus mula menjadikanmu langganan.
Bersama sang waktu, karang di hatiku perlahan mengikis, mengapa tak kulihat karang di hatimu menipis ?
Jika kumemilih jalan bagai si bisutuli, bukan berarti aku tak berbakti.
Pada sudut kesunyian hati, setiap bait do'a tanpa henti kupanjatkan pada Illahi Rabbi untukmu, Bapak.
Untuk hidupmu, untuk kesehatanmu dan untuk dunia akheratmu.
Betapa sulitnya mencari serpihan kata untuk kupunguti dan menguntainya menjadi puisi. Satu persatu huruf enggan kujumput dan kurajut pada lembaran kanvas putih yang sedia kupersembahkan untukmu.
Ya Bapak, untukmu.
Untuk darah yang mengalir deras pada nadi-nadiku, untuk serpihan batu di kepalaku, untuk kokohnya karang di hatiku. Bukankah semua ini milikmu, Bapak ?
Pun jiwa patriot yang terpatri abadi di dada ini, bukan Ahmad Yani punya, bukan W.R Soepratman punya, bukan pula Oerip Soemohardjo punya, walau aku terlahir di kota yang sama. Kau yang mematrinya, Bapak.
Langit senja hanya mampu buat ragamu renta, tanpa bisa menendang egomu yang bersarang bagai batu karang. Kau tak pernah lelah untuk tetap bertahan, pun kala botol-botol infus mula menjadikanmu langganan.
Bersama sang waktu, karang di hatiku perlahan mengikis, mengapa tak kulihat karang di hatimu menipis ?
Jika kumemilih jalan bagai si bisutuli, bukan berarti aku tak berbakti.
Pada sudut kesunyian hati, setiap bait do'a tanpa henti kupanjatkan pada Illahi Rabbi untukmu, Bapak.
Untuk hidupmu, untuk kesehatanmu dan untuk dunia akheratmu.
Balada Perawan Terluka
berpendar lampu di trotoar
teriknya mentari, pengapnya hari
mengaduk isi perutku, memabukkan cacing-cacing kelaparan
duniaku hitam dipenuhi byarpet bintang-bintang, membuatku nyaris masuk longkang
terpontang-panting langkahku di jalanan
hingga tercompang-camping baju yang kukenakan
tatap mata keheranan ataukah menjijikkan yang kudapat
saat terlihat jelas jejak merah di seluruh tubuhku habis kau lumat
lihatlah ke mari !
jika kau tak juga menampakkan diri
akan kutanggalkan semua yang menutupi maluku
agar seisi jagat kemunafikan ini tahu, kaulah yang merobek-robek keperawananku, mencompang-campingkan kehidupanku!
bibir ini masih basah, bercak sisa perawanku masih merah
haruskah janin ini terlahir tanpa ayah, atau kursi aborsi kan menjadikannya jenazah ... ?
kenapa tak kau katakan sedari awal, jika kau seorang bajingan ?!
teriknya mentari, pengapnya hari
mengaduk isi perutku, memabukkan cacing-cacing kelaparan
duniaku hitam dipenuhi byarpet bintang-bintang, membuatku nyaris masuk longkang
terpontang-panting langkahku di jalanan
hingga tercompang-camping baju yang kukenakan
tatap mata keheranan ataukah menjijikkan yang kudapat
saat terlihat jelas jejak merah di seluruh tubuhku habis kau lumat
lihatlah ke mari !
jika kau tak juga menampakkan diri
akan kutanggalkan semua yang menutupi maluku
agar seisi jagat kemunafikan ini tahu, kaulah yang merobek-robek keperawananku, mencompang-campingkan kehidupanku!
bibir ini masih basah, bercak sisa perawanku masih merah
haruskah janin ini terlahir tanpa ayah, atau kursi aborsi kan menjadikannya jenazah ... ?
kenapa tak kau katakan sedari awal, jika kau seorang bajingan ?!
Telah Kutitipkan Bangsa dan Negara Ini Padamu
hamparan zamrut khatulistiwa
gemah ripah loh jinawi
murah sandang murah pangan
industri bagai hiasan negeri
tawa bocah-bocah sekolah memecah pagi
semua tersenyum dan beraroma harum
saat kumelangkah gagah
menitipkan bangsa dan negara ini
tanpa ragu padamu
kini kukembali
ternganga, terpaku berdiri
bangsaaaaaaattt ! kau apakan hingga negeriku seperti ini ????!!!
gemah ripah loh jinawi
murah sandang murah pangan
industri bagai hiasan negeri
tawa bocah-bocah sekolah memecah pagi
semua tersenyum dan beraroma harum
saat kumelangkah gagah
menitipkan bangsa dan negara ini
tanpa ragu padamu
kini kukembali
ternganga, terpaku berdiri
bangsaaaaaaattt ! kau apakan hingga negeriku seperti ini ????!!!
Tuesday, August 11, 2009
Dahaga Sang Penjaja Cinta

Dan aku masih menggelapar di sini, di sudut keramaian dan kerlapkerlip lampu jalanan, dengan liur yang tak terbendung oleh desakan hasrat jiwa yang dahaga akan cumbu pagimu dan malam-malam yang melahirkan rintihan.
Sampai kapan kerontang ini kau biarkan menganga dan terbelah, bahkan semutpun merasa pedih tuk merayap ke jalan ini, sangat tandus, sekarat mengendus, mati atau mampus?
Dahagaku bukan untuk mengumbar nafsu atas nafas yang memburu saat kau mengambilnya satu-persatu di setiap liar rayuanmu
Hingga lampu jalanan tak sudi lagi berkelip,
pun aku tetap menanti janjimu, hai lelakiku ...
Sampai kapan kerontang ini kau biarkan menganga dan terbelah, bahkan semutpun merasa pedih tuk merayap ke jalan ini, sangat tandus, sekarat mengendus, mati atau mampus?
Dahagaku bukan untuk mengumbar nafsu atas nafas yang memburu saat kau mengambilnya satu-persatu di setiap liar rayuanmu
Hingga lampu jalanan tak sudi lagi berkelip,
pun aku tetap menanti janjimu, hai lelakiku ...
Monday, August 10, 2009
LONELY
Sepi ini beraroma tubuhmu, dengus nafasmu, gelitik nakal jemarimu, menyatu bagai candu
Aku mendamba, aku merindu, aku menagih, serpihan kasihmu yang tercecer di antara temaram bintang dan pucat wajah rembulan ...
Semenjak langit mula memerah, hingga bertukar kelabu resah, siksa cintamu ikhlas kukunyah
Bahkan saat sebilah pisau kau titipkan di tepi hatiku, dengan pasrah kunikmati sayat demi sayat yang mulai melumpuhkan hasrat, nyaris sekarat lalu memaksaku untuk tetap di sini, menunggu dan terus menunggu hingga menjelang pagi
Sepi ini, sungguh bagai candu di setiap penghujung malamku ....
Aku mendamba, aku merindu, aku menagih, serpihan kasihmu yang tercecer di antara temaram bintang dan pucat wajah rembulan ...
Semenjak langit mula memerah, hingga bertukar kelabu resah, siksa cintamu ikhlas kukunyah
Bahkan saat sebilah pisau kau titipkan di tepi hatiku, dengan pasrah kunikmati sayat demi sayat yang mulai melumpuhkan hasrat, nyaris sekarat lalu memaksaku untuk tetap di sini, menunggu dan terus menunggu hingga menjelang pagi
Sepi ini, sungguh bagai candu di setiap penghujung malamku ....
Saturday, August 8, 2009
GELAK KITA, LUKA KITA
sapamu riang
kusambut senang
ada luka terbersit di antaranya
dan di antara perih yang menggerus dada
di antara sesak yang tak terlihat, kita masih bisa tergelak
kita tertawakan luka
luka yang indah, katamu
kita tertawakan indah
indah yang melukakan, kataku
kita masih tergelak di antara sesak
bahkan kita tertawakan airmata yang mengalir
tanpa bisa kita bedakan, airmata luka ataukah bahagia
hidup itu indah tapi hancur, katamu tergelak
hidup ini hancur tapi indah, kataku sesak
dan kembali kita sama-sama tergelak
**mentertawakan kepedihan dan keindahan yang mewarnai kehidupan
dengan kedua tangan saling menggenggam, saling memberi kekuatan ...
kusambut senang
ada luka terbersit di antaranya
dan di antara perih yang menggerus dada
di antara sesak yang tak terlihat, kita masih bisa tergelak
kita tertawakan luka
luka yang indah, katamu
kita tertawakan indah
indah yang melukakan, kataku
kita masih tergelak di antara sesak
bahkan kita tertawakan airmata yang mengalir
tanpa bisa kita bedakan, airmata luka ataukah bahagia
hidup itu indah tapi hancur, katamu tergelak
hidup ini hancur tapi indah, kataku sesak
dan kembali kita sama-sama tergelak
**mentertawakan kepedihan dan keindahan yang mewarnai kehidupan
dengan kedua tangan saling menggenggam, saling memberi kekuatan ...
spore, 080809
** DM **
DEDIKASI UNTUK KAKAKKU TERCINTA : INEZ PECIA ZEN
LOVE YOU SIST :-)
Wednesday, August 5, 2009
BUNTU
kumencari sebuah kata
untuk kutulis pada sebilah kaca
ujung jari telah siap menempel di sana mengukirnya
namun tak satupun kutemui kata yang bermakna ..
mengapa ....
haruskah aku bertanya mengapa?
jika siluet ungu itu selalu menari-nari di pelupuk mata ..
membuka tangan ... tersenyum dan mengangguk tulus menyapa
aku masih terpaku membisu ... tanpa bisa berbuat sesuatu .....
ada yang membelai dari dalam sini
ketika kusangka siluet itu hanyalah bayangan semu
semburat jingga dari kaki langit membuatnya nampak indah dan nyata
lagi tak sanggup aku kedipkan mata ... mulutku ternganga ....
ah buntu !
buntu yang mengunci malu
buntu yang membuang ragu
buntu yang kian terasa syahdu
buntu ...
karena tak aku dapatkan kata selain dirimu
dirimu ....
pesonamu ...
dalam siluet ungu ...
yang membuatku ...sungguh
BUNTU !
untuk kutulis pada sebilah kaca
ujung jari telah siap menempel di sana mengukirnya
namun tak satupun kutemui kata yang bermakna ..
mengapa ....
haruskah aku bertanya mengapa?
jika siluet ungu itu selalu menari-nari di pelupuk mata ..
membuka tangan ... tersenyum dan mengangguk tulus menyapa
aku masih terpaku membisu ... tanpa bisa berbuat sesuatu .....
ada yang membelai dari dalam sini
ketika kusangka siluet itu hanyalah bayangan semu
semburat jingga dari kaki langit membuatnya nampak indah dan nyata
lagi tak sanggup aku kedipkan mata ... mulutku ternganga ....
ah buntu !
buntu yang mengunci malu
buntu yang membuang ragu
buntu yang kian terasa syahdu
buntu ...
karena tak aku dapatkan kata selain dirimu
dirimu ....
pesonamu ...
dalam siluet ungu ...
yang membuatku ...sungguh
BUNTU !
Thursday, July 30, 2009
Cinta Dalam Kidung Wali Hatimu
Sekian lama aku termenung menatap langit-langit kamarku, terpejam mataku menikmati senandung-senandung cinta yang kau kirimkan padaku. Satu persatu senandung itu mengalun, kurasakan dan semakin kuingin mengulang dan kembali mengulangnya . Kau katakan kidung itu mewakili hatimu ... cintamu ... cinta yang kau persembahkan untukku .
Ah ... kau begitu menyanjungku.
Aku tak pernah berfikir bahwa apa yang selama ini hanya ada dalam hayalan fantasiku benar - benar terjadi. Kau hadir di saat aku terombang-ambing dalam ketidak pastian, di antara dua jalan yang bercabang ... di antara keraguan-keraguanku tentang cinta. Aku telah limbung saat itu , aku hampir terjatuh dalam nikmatnya buaian cinta terlarang yang selama ini aku tentang. Aku menikmati buaian itu ... sangat menghayutkan. Dan kau hadir ... membangunkanku, membukakan mataku .. meyadarkanku bahwa masih ada cinta yang pantas aku dapatkan .
Aku terkesima memandangmu ... menatap kejujuran dari matamu, menatap sejuknya senyuman yang kau berikan padaku . Langkahmu begitu perlahan ... tenang tapi begitu pasti memasuki bilik cinta yang hampir kukunci mati. Aku mengagumimu ... hanya sanggup mengagumi sosokmu yang selalu menari-nari di setiap malamku. Aku tak berani berharap lebih ... aku tak mau meminta lebih ... jika kau balas sapaku hanya dengan sebuah senyumanpun ... hatiku sudah melambung.
Dan kau ... tak hanya memberiku senyuman ... kau datang mempersembahkan hatimu, mepersembahkan cintamu .... dengan kidung-kidung itu.
Senandung cinta masih mengalun merdu di telingaku. Mengiringi setiap desah nafasku ... mengiringi setiap langkah kakiku yang semakin yakin adanya dirimu dalam setiap nada indah itu. Kidung cinta yang perlahan-lahan mulai mengubah jalan hidupku. Tak perlu kau berkata-kata ... karena semua telah terwakili di situ . Dari kidung pertama yang melenakanku ... kidung-kidung seterusnya yang menyanjungku ... hingga kidung terakhir yang menguras hatiku untuk bertahan agar tak ada airmata yang tertumpahkan .
Aku masih menikmati senandung itu hingga saat ini ... ditemani tetes airmata yang ternyata tak mampu kubendung lagi. Ingin kuberlari menyeruak ilalang yang menghalangi pandangan, ingin melompat dan terbang tanpa harus melewati luasnya lautan ... untuk mencarimu, memelukmu dan persimpuh di kakimu memohon jadikan cinta kita tak hanya sekedar fatamorgana. Dan aku yakin kau akan meraih tubuhku dan merengkuhku dalam pelukan hangatmu ... sehangat rajutan asmara yang kau selimutkan di hatiku.
Karena katamu cinta adalah sebuah keyakinan ....
seyakin harapanku akan kesungguhan cintamu ..
Dan kidung itu masih mengalun di sini ....
mengharu biru hatiku ...
KIDUNG YANG MENJADI WALI HATIMU ...
*** dedikasi untuk seseorang yang pernah menggoreskan kenangan terindah di hatiku
Ah ... kau begitu menyanjungku.
Aku tak pernah berfikir bahwa apa yang selama ini hanya ada dalam hayalan fantasiku benar - benar terjadi. Kau hadir di saat aku terombang-ambing dalam ketidak pastian, di antara dua jalan yang bercabang ... di antara keraguan-keraguanku tentang cinta. Aku telah limbung saat itu , aku hampir terjatuh dalam nikmatnya buaian cinta terlarang yang selama ini aku tentang. Aku menikmati buaian itu ... sangat menghayutkan. Dan kau hadir ... membangunkanku, membukakan mataku .. meyadarkanku bahwa masih ada cinta yang pantas aku dapatkan .
Aku terkesima memandangmu ... menatap kejujuran dari matamu, menatap sejuknya senyuman yang kau berikan padaku . Langkahmu begitu perlahan ... tenang tapi begitu pasti memasuki bilik cinta yang hampir kukunci mati. Aku mengagumimu ... hanya sanggup mengagumi sosokmu yang selalu menari-nari di setiap malamku. Aku tak berani berharap lebih ... aku tak mau meminta lebih ... jika kau balas sapaku hanya dengan sebuah senyumanpun ... hatiku sudah melambung.
Dan kau ... tak hanya memberiku senyuman ... kau datang mempersembahkan hatimu, mepersembahkan cintamu .... dengan kidung-kidung itu.
Senandung cinta masih mengalun merdu di telingaku. Mengiringi setiap desah nafasku ... mengiringi setiap langkah kakiku yang semakin yakin adanya dirimu dalam setiap nada indah itu. Kidung cinta yang perlahan-lahan mulai mengubah jalan hidupku. Tak perlu kau berkata-kata ... karena semua telah terwakili di situ . Dari kidung pertama yang melenakanku ... kidung-kidung seterusnya yang menyanjungku ... hingga kidung terakhir yang menguras hatiku untuk bertahan agar tak ada airmata yang tertumpahkan .
Aku masih menikmati senandung itu hingga saat ini ... ditemani tetes airmata yang ternyata tak mampu kubendung lagi. Ingin kuberlari menyeruak ilalang yang menghalangi pandangan, ingin melompat dan terbang tanpa harus melewati luasnya lautan ... untuk mencarimu, memelukmu dan persimpuh di kakimu memohon jadikan cinta kita tak hanya sekedar fatamorgana. Dan aku yakin kau akan meraih tubuhku dan merengkuhku dalam pelukan hangatmu ... sehangat rajutan asmara yang kau selimutkan di hatiku.
Karena katamu cinta adalah sebuah keyakinan ....
seyakin harapanku akan kesungguhan cintamu ..
Dan kidung itu masih mengalun di sini ....
mengharu biru hatiku ...
KIDUNG YANG MENJADI WALI HATIMU ...
*** dedikasi untuk seseorang yang pernah menggoreskan kenangan terindah di hatiku
TERIMAKASIH TUHAN, TERIMAKASIH MALAM
terimakasih malam, kau kembali datang
ijinkan aku bergelanyut pada lenganmu yang hitam
hitam pembawa segenap angan manusia membumbung ke awan
hitam yang menyediakan kotak kotak mimpi untuk berpetualangan ...
terimakasih Tuhan , Kau hadirkan malam
tempat aku bisa melukiskan semua hayalan
kedalam kanvas mimpi dari kotak kotak yang kau berikan
walau kadang melelahkan, menakutkan namun sungguh mengasyikkan
kembali kutelusuri lorong lorong mimpi yang sempat tertunda
kupilah pilah kembali kotak kotak pada dinding kelam malam
ada kotak manis yang akan mengantarkanku ke taman surgawi
ada kotak bengis yang akan membawaku pada alam seram mendebarkan
terimakasih Tuhan yang memberiku malam
dalam mimpipun aku masih Kau ijinkan memilih
dan kini aku lebih memilih si kotak bengis
karena dalam kotak bengis aku selalu menemukanMu
saat aku menjerit dalam situasi terjepit
selalu ada jalan menyudahinya
terimaksih Tuhan
terimaksih malam
terimakasih mimpi
* esok hari ... masih bolehkah aku mengunjungimu ...
**dedikasi untuk putriku : Rakyan Trisyabhuana Adinda Maharani
ijinkan aku bergelanyut pada lenganmu yang hitam
hitam pembawa segenap angan manusia membumbung ke awan
hitam yang menyediakan kotak kotak mimpi untuk berpetualangan ...
terimakasih Tuhan , Kau hadirkan malam
tempat aku bisa melukiskan semua hayalan
kedalam kanvas mimpi dari kotak kotak yang kau berikan
walau kadang melelahkan, menakutkan namun sungguh mengasyikkan
kembali kutelusuri lorong lorong mimpi yang sempat tertunda
kupilah pilah kembali kotak kotak pada dinding kelam malam
ada kotak manis yang akan mengantarkanku ke taman surgawi
ada kotak bengis yang akan membawaku pada alam seram mendebarkan
terimakasih Tuhan yang memberiku malam
dalam mimpipun aku masih Kau ijinkan memilih
dan kini aku lebih memilih si kotak bengis
karena dalam kotak bengis aku selalu menemukanMu
saat aku menjerit dalam situasi terjepit
selalu ada jalan menyudahinya
terimaksih Tuhan
terimaksih malam
terimakasih mimpi
* esok hari ... masih bolehkah aku mengunjungimu ...
**dedikasi untuk putriku : Rakyan Trisyabhuana Adinda Maharani
Cerita Tentang Luka
pada langit yang mengelabu
telah kutitipkan kabut hitam di mataku
berharap awan membawanya berlalu
kukuliti tubuhku saat nadi membeku
detik mengupas ariku satu-persatu
menjatuhkannya pada semangkuk kuah panas berdarah
di atas altar pengakuan kupersembahkan atas nama kejujuran
bersama senyap kusesap pedih menunggu jawab
pada detik berikutnya sepasang retinaku melihatmu menikmatinya begitu lahap ...
** sesudah ini bagian tubuhku mana lagi yang kau inginkan tuk disayat ?
telah kutitipkan kabut hitam di mataku
berharap awan membawanya berlalu
kukuliti tubuhku saat nadi membeku
detik mengupas ariku satu-persatu
menjatuhkannya pada semangkuk kuah panas berdarah
di atas altar pengakuan kupersembahkan atas nama kejujuran
bersama senyap kusesap pedih menunggu jawab
pada detik berikutnya sepasang retinaku melihatmu menikmatinya begitu lahap ...
** sesudah ini bagian tubuhku mana lagi yang kau inginkan tuk disayat ?
Maaf, aku sedang cemburu
di antara panas khatulistiwa
dan asap anak krakatau yang makin menggelora
ada riak
menyesak
menjadi ombak
bumiku bergejolak
kuketuk dinding hatiku yang bergemuruh
terdengar suara lirih terhimpit perih
** maaf, aku sedang cemburu ...
dan asap anak krakatau yang makin menggelora
ada riak
menyesak
menjadi ombak
bumiku bergejolak
kuketuk dinding hatiku yang bergemuruh
terdengar suara lirih terhimpit perih
** maaf, aku sedang cemburu ...
Masih Banyak Cinta Untukmu
kau adalah segumpal darah, yang terisi jiwa dan selembar kesucian
kumemelukmu atas nyawa yang kupertaruhkan
kutuntun tanganmu tuk menyusuri tapaktapak sunyi
kuajari kau berlari, hingga kaki ini tak lagi meragu untuk pergi
jika kini kau terjatuh, bukan kau tak patuh
ataupun alam ini tak sudi menjadi tempatmu berteduh
dongakkan kepalamu, tetapkan langkahmu
hidup bukan untuk kau maki dan ratapi
rengkuhlah bersama mimpimimpimu yang masih menanti
lihatlah, matahari masih tetap menyapa pagi
rembulan tetap hadir di setiap purnama
hapus airmatamu, hadapi sapa kehidupanmu
jatuh tak berati runtuh, tapi mengajarkanmu menjadi lelaki tangguh
yakinlah bersama do'a-do'a mama
di sini masih banyak cinta untukmu, anakku ...
** dedikasi untuk putra sulungku : Rengga Aditya Pratama
kumemelukmu atas nyawa yang kupertaruhkan
kutuntun tanganmu tuk menyusuri tapaktapak sunyi
kuajari kau berlari, hingga kaki ini tak lagi meragu untuk pergi
jika kini kau terjatuh, bukan kau tak patuh
ataupun alam ini tak sudi menjadi tempatmu berteduh
dongakkan kepalamu, tetapkan langkahmu
hidup bukan untuk kau maki dan ratapi
rengkuhlah bersama mimpimimpimu yang masih menanti
lihatlah, matahari masih tetap menyapa pagi
rembulan tetap hadir di setiap purnama
hapus airmatamu, hadapi sapa kehidupanmu
jatuh tak berati runtuh, tapi mengajarkanmu menjadi lelaki tangguh
yakinlah bersama do'a-do'a mama
di sini masih banyak cinta untukmu, anakku ...
** dedikasi untuk putra sulungku : Rengga Aditya Pratama
NGENTENI AKU ... { GEGURITAN }
nglumpukake kembang setaman
nambah wangi raga kang dieman
supaya ngresep sakjeroning ati
wangi raga, wangine ati, lebur dadi siji
tresnaku madhet marang sliramu
trima kaliren ngenteni esemmu
lali mangan, lali dandan, lali turu
ngarep-arep kelebating wewayanganmu
ngabangeke waru warna biru ...
duh kangmas pujaning atiku ...
abang irenge srengenge sineksen dening mripatku
pahit asinne donya wis dadi sandhanganku
sing tak jaluk aja mung ucap ulatmu
katresnan sejati ora kaya dolanan golekan kayu
disekseni kerlip kemayu lintang sewu lan endahing cahya rembulan
sliramu ngucap janji setya tuhu, ngenteni tekaku ... urip nyawiji .... nganti tumekaning pati
nambah wangi raga kang dieman
supaya ngresep sakjeroning ati
wangi raga, wangine ati, lebur dadi siji
tresnaku madhet marang sliramu
trima kaliren ngenteni esemmu
lali mangan, lali dandan, lali turu
ngarep-arep kelebating wewayanganmu
ngabangeke waru warna biru ...
duh kangmas pujaning atiku ...
abang irenge srengenge sineksen dening mripatku
pahit asinne donya wis dadi sandhanganku
sing tak jaluk aja mung ucap ulatmu
katresnan sejati ora kaya dolanan golekan kayu
disekseni kerlip kemayu lintang sewu lan endahing cahya rembulan
sliramu ngucap janji setya tuhu, ngenteni tekaku ... urip nyawiji .... nganti tumekaning pati
Catatan dari Dinding Facebookku
dari George Soedarsono Esthu
CATATAN
kutulis catatan ini untuk mengenangmu
dalam kebimbangan aku masih menunggu
ah, seandainya engkau bisa bersamaku waktu demi waktu
merajut angan-angan akan masa depan yang tenteram
mengolah tanah, membuka ladang
kutunggu kau di musim semi nanti
bunga persik warna dadu dan ungu dimana-mana
dan aku ingin sekali mengusap salju
yang masih melekat di rambutmu
-------------- *** ---------------------------
jawaban :
SENYUMMU DI PINTU DERMAGA
hening malam membawa bisikan bayu
dupa tanah dewata beraroma rindu
gelombang samudera tawarkan kedamaian
pada buritan kapal wajahmu terkenang
pelayaran ini terlalu sunyi untukku
setiap dermaga meninggalkan hampa
bahkan kidung cinta tak lagi terasa mendayu
saat petikan gitarku tak mampu lagi wakili kegalauan jiwa
kekasih, ingin rasanya kuputar haluan
membawa kembali layarku pulang
adakah dermagamu masih menunggu
andai kau tau, mendustai hati membuatku hampir mati
bulan masih indah malam ini
haruskah kumenunggu hingga musim semi
sementara batin tak kuasa lagi menahan diri
kuharap ada senyummu di pintu dermaga, menyambut bingkisan salju yang tetap terjaga putihnya
-------------------- *** -----------------------
terimakasih mas George Soedarsono Esthu atas catatannya di wall saya
semoga jawaban puisi saya gak memalukan yaa hehehe
salam hormat untuk anda :)
CATATAN
kutulis catatan ini untuk mengenangmu
dalam kebimbangan aku masih menunggu
ah, seandainya engkau bisa bersamaku waktu demi waktu
merajut angan-angan akan masa depan yang tenteram
mengolah tanah, membuka ladang
kutunggu kau di musim semi nanti
bunga persik warna dadu dan ungu dimana-mana
dan aku ingin sekali mengusap salju
yang masih melekat di rambutmu
-------------- *** --------------------------
jawaban :
hening malam membawa bisikan bayu
dupa tanah dewata beraroma rindu
gelombang samudera tawarkan kedamaian
pada buritan kapal wajahmu terkenang
pelayaran ini terlalu sunyi untukku
setiap dermaga meninggalkan hampa
bahkan kidung cinta tak lagi terasa mendayu
saat petikan gitarku tak mampu lagi wakili kegalauan jiwa
kekasih, ingin rasanya kuputar haluan
membawa kembali layarku pulang
adakah dermagamu masih menunggu
andai kau tau, mendustai hati membuatku hampir mati
bulan masih indah malam ini
haruskah kumenunggu hingga musim semi
sementara batin tak kuasa lagi menahan diri
kuharap ada senyummu di pintu dermaga, menyambut bingkisan salju yang tetap terjaga putihnya
-------------------- *** -----------------------
terimakasih mas George Soedarsono Esthu atas catatannya di wall saya
semoga jawaban puisi saya gak memalukan yaa hehehe
salam hormat untuk anda :)
Padamu ... Duri
pada ujungmu yang meninggalkan luka ....
menyisakan perih
lihatlah !
aku masih tegar berdiri bersama setetes darah yang tersisa ...
menyisakan perih
lihatlah !
aku masih tegar berdiri bersama setetes darah yang tersisa ...
Andai Kau Tahu , Nak ...
** sepotong bulan pucat hiasi pagiku
pada ujungnya kupasang sebuah gelas kristal
untuk menampung tetesan darah yang tak henti memintal resah
mari kemari wahai anakku
lihatlah telapak tangan ibumu
saat kau berjarak sejengkal
hingga kini berjutajuta hektar
hanya lantunan do'a kutiupkan di sana
tidakkah kau lihat senyum Tuhan ramah menyapa ?
ini pangkuanku masih tetap untuk rebahmu
ini bahuku selalu menanti sandaranmu
kedua tanganku tetap hangat memelukmu
mengapa harus kau hitung kancing baju untuk berjalan ke arahku ?
adakah kau temukan wajah ibumu pada langit yang mengelabu
airmata sudahlah kutitipkan pada derasnya hujan yang mengguyurmu
dengarkanlah isak ibumu yang mampu memecahkan gunung batu
apakah kau masih saja ingin berlalu , wahai anakku ?
andai kau tahu nak , kuah sup yang kau nikmati adalah darah dan peluh ibumu ...
pada ujungnya kupasang sebuah gelas kristal
untuk menampung tetesan darah yang tak henti memintal resah
mari kemari wahai anakku
lihatlah telapak tangan ibumu
saat kau berjarak sejengkal
hingga kini berjutajuta hektar
hanya lantunan do'a kutiupkan di sana
tidakkah kau lihat senyum Tuhan ramah menyapa ?
ini pangkuanku masih tetap untuk rebahmu
ini bahuku selalu menanti sandaranmu
kedua tanganku tetap hangat memelukmu
mengapa harus kau hitung kancing baju untuk berjalan ke arahku ?
adakah kau temukan wajah ibumu pada langit yang mengelabu
airmata sudahlah kutitipkan pada derasnya hujan yang mengguyurmu
dengarkanlah isak ibumu yang mampu memecahkan gunung batu
apakah kau masih saja ingin berlalu , wahai anakku ?
andai kau tahu nak , kuah sup yang kau nikmati adalah darah dan peluh ibumu ...
Denting Piano
denting piano bernada sumbang
mengetuk dinding malam di keheningan
saat panggung kota di ambang lengang
menghentak sekawanan kelelawar jalanan
kala menyapa sepotong hati
memoles merah hiasi jentik jemari
pada bening bola mata perempuan
yang dipermainkan neraca kegelisahan
harap dan cemas mengusik nurani
akankah keanggunan anggrek bulan
dengan lilitan jasmine yang tak suci
memadu dalam jambangan ketidak pastian ...
malam beringsut perlahan
kelelawar bertukar tempat dengan camar
sementara denting piano masih saja bernada sumbang ...
mengetuk dinding malam di keheningan
saat panggung kota di ambang lengang
menghentak sekawanan kelelawar jalanan
kala menyapa sepotong hati
memoles merah hiasi jentik jemari
pada bening bola mata perempuan
yang dipermainkan neraca kegelisahan
harap dan cemas mengusik nurani
akankah keanggunan anggrek bulan
dengan lilitan jasmine yang tak suci
memadu dalam jambangan ketidak pastian ...
malam beringsut perlahan
kelelawar bertukar tempat dengan camar
sementara denting piano masih saja bernada sumbang ...
Cinta dari Kota Tua
kau menyapa di ujung jenuhku
membawa cerita tentang kota tua
di mana ariari kita dikubur pada tanah yang sama
serta aroma masakan ibuku dan ibumu, bahkan jerit lokomotif
yang mengepulkan asap berwarna serupa
saat gelak menyibak jejak nostalgia
kisah kita yang mengepompong kini terbuka
menjelma harubiru kupukupu bersayap pelangi
menyusuri sepanjang jembatan memori yang terlewati
mungkin aku bukan perawanmu yang menimbang pinangan
dengan janji mahkota kesucian
aku hanya ingin terlahir dan kembali pada fitrahku
untuk melengkapi tulang rusukmu ...
** seperti pintamu yang mengajakku menikmati masa tua di kota legenda
membawa cerita tentang kota tua
di mana ariari kita dikubur pada tanah yang sama
serta aroma masakan ibuku dan ibumu, bahkan jerit lokomotif
yang mengepulkan asap berwarna serupa
saat gelak menyibak jejak nostalgia
kisah kita yang mengepompong kini terbuka
menjelma harubiru kupukupu bersayap pelangi
menyusuri sepanjang jembatan memori yang terlewati
mungkin aku bukan perawanmu yang menimbang pinangan
dengan janji mahkota kesucian
aku hanya ingin terlahir dan kembali pada fitrahku
untuk melengkapi tulang rusukmu ...
** seperti pintamu yang mengajakku menikmati masa tua di kota legenda
JADIKAN AKU PELACURMU
jika kau gundah
jiwamu meronta gelisah
menggerayang malam jahanam
melontarkan hasrat di tepi jalanan
tak kah kau iba pada birahimu yang terhina
mengejang sesaat dalam nikmat yang kau lumat
mengapa tak kau bergeming dan berpaling
mengendus wangi parfum pada tubuhku
melepas belenggu kejantananmu
membakar urat- urat penuh syahwat
yang tak pernah bisa kau rawat
lepaskan jalinan yang mengikat
di antara tali kutang yang merentang
bersama aroma alkohol yang menyengat
padukan ... satukan ... tak perlu moral kau pikirkan !!
aku tak butuh ikatan utuh
jangan pernah menjerat kakiku pada hidupmu
biarkan hasrat kita memadu tanpa belenggu
asal kau tak lagi menyusuri malam membeli birahi tepi jalan
malam ini aku meminta padamu dengan segala hormat ...
** jadikan aku pelacurmu !
jiwamu meronta gelisah
menggerayang malam jahanam
melontarkan hasrat di tepi jalanan
tak kah kau iba pada birahimu yang terhina
mengejang sesaat dalam nikmat yang kau lumat
mengapa tak kau bergeming dan berpaling
mengendus wangi parfum pada tubuhku
melepas belenggu kejantananmu
membakar urat- urat penuh syahwat
yang tak pernah bisa kau rawat
lepaskan jalinan yang mengikat
di antara tali kutang yang merentang
bersama aroma alkohol yang menyengat
padukan ... satukan ... tak perlu moral kau pikirkan !!
aku tak butuh ikatan utuh
jangan pernah menjerat kakiku pada hidupmu
biarkan hasrat kita memadu tanpa belenggu
asal kau tak lagi menyusuri malam membeli birahi tepi jalan
malam ini aku meminta padamu dengan segala hormat ...
** jadikan aku pelacurmu !
LELAKI TUA
* bersandar lemas di kursi malas
pandangan tuamu menerawang tanpa batas ....
kau membabtis diri sebagai raja sebuah huma
sementara anak istri hanyalah kawula pengikut sabda
ucapmu adalah veto, lakumu titah ratu
namun kau lupa, bahwa roda akan membawamu ke langit senja
dan dalam perjalananmu, setiap titik debu menyerap egomu satu persatu
** hanya wanita mulia itu yang sanggup menambal helai kesabaran setiap kali kau mengoyaknya ...
pandangan tuamu menerawang tanpa batas ....
kau membabtis diri sebagai raja sebuah huma
sementara anak istri hanyalah kawula pengikut sabda
ucapmu adalah veto, lakumu titah ratu
namun kau lupa, bahwa roda akan membawamu ke langit senja
dan dalam perjalananmu, setiap titik debu menyerap egomu satu persatu
** hanya wanita mulia itu yang sanggup menambal helai kesabaran setiap kali kau mengoyaknya ...
Untukmu Yang Bertopeng
bagaimana aku terus menulis
jika setiap goresan penaku bertinta darah
bagaimana aku berani bernyanyi
jika kidung itu menjadi lolongan menyayat hati
bahkan hujan dan airmata tak nampak beda
di antara keduanya mendatangkan nestapa
saat kau renggut semua dengan keliaranmu
saat itu juga dunia bagiku hanyalah debu
jangan paksa aku mengangguk , pada senyum dan jura palsumu
karena kutahu kau hanyalah serigala pencari mangsa ..
dan di balik topeng malaikatmu kulihat seringai itu mengalir liur bisa beracun !
jika setiap goresan penaku bertinta darah
bagaimana aku berani bernyanyi
jika kidung itu menjadi lolongan menyayat hati
bahkan hujan dan airmata tak nampak beda
di antara keduanya mendatangkan nestapa
saat kau renggut semua dengan keliaranmu
saat itu juga dunia bagiku hanyalah debu
jangan paksa aku mengangguk , pada senyum dan jura palsumu
karena kutahu kau hanyalah serigala pencari mangsa ..
dan di balik topeng malaikatmu kulihat seringai itu mengalir liur bisa beracun !
Pilar Pilar Kehidupan
pada pilarpilar yang menjulang dengan keindahannya
.......pada pilarpilar yang terbangun oleh merdu nyanyian burung gereja
......kuberdiri di antara empat pilar yang beratap hampir sempurna
masih bisa kuberlindung dari panas yang mengintip dan hujan yang memercik
.............pada pilarpilar yang sangat aku idamkan ................
kulihat ada retak oleh patukan tajam burung gereja yang ingin merusaknya ...
: TELAK !
.......pada pilarpilar yang terbangun oleh merdu nyanyian burung gereja
......kuberdiri di antara empat pilar yang beratap hampir sempurna
masih bisa kuberlindung dari panas yang mengintip dan hujan yang memercik
.............pada pilarpilar yang sangat aku idamkan ................
kulihat ada retak oleh patukan tajam burung gereja yang ingin merusaknya ...
: TELAK !
SAMSARA
ayu merindu putihMu
dalam samsara yang membelenggu
ayu memekik memanggilMu
lontarkan samsara yang mencengkeram jiwa
mengukir tajam derita
menjadi samsara sahabat setia
ayu bertanya
bilakah samsara hendak melepaskannya
ayu .... semakin ayu ...
kala samsara enggan bicara
ayu ... bertambah ayu ...
saat keikhlasan merengkuh samsara dalam hidupnya
bersama samsara menjadikan ayu gemulai yang perkasa ....
Tarian Angsa di Antara Ranting Flamboyan
tiupan angin kacaukan mendung
hadirkan semburat tajam mentari berselindung
kilau danau tenang tanpa kecipak ikan
pada tepiannya ... angsa putih tertegun mengulum kecewa
kepala mendongak tersangga leher jenjang
memandang mekar flamboyan semarakkan musim kering
takjub mata terkedip pesona
dalam keheningan abaikan rasa gulana
dan saat langit kembali kelabu
sang angsa menari indah di antara ranting flamboyan
kepakkan sayap menikam bimbang
karena ternyata kering dan hujan saling bertautan
** seperti padunya tarian angsa bersama seri flamboyan
tak selamanya kering hadirkan gersang
CERITA BARU
di antara sisi langit rembang petangmu
kulihat jingga mengurai luka
terbersit hati tuk sematkan rendarenda kasih
sebagai pembalut goresan yang tak sedap dipandang mata
adakah kan kau sapa lambaian cemara, yang tak pernah lelah meliukkan tubuh demi damainya tepi pantai, hingga nyanyian camar di sepagi tadi saat cakrawala menyambut senyuman sang surya
jika semalam mimpi enggan menemani lenamu
ijinkan aku tautkan asa pada nyala lilin yang menerangi peraduanmu
kukan rela meleleh bersama putihnya, agar matahatimu mengerti arti sebuah pengorbanan
** dan kuharap esok ada cerita baru antara engkau dan aku
kulihat jingga mengurai luka
terbersit hati tuk sematkan rendarenda kasih
sebagai pembalut goresan yang tak sedap dipandang mata
adakah kan kau sapa lambaian cemara, yang tak pernah lelah meliukkan tubuh demi damainya tepi pantai, hingga nyanyian camar di sepagi tadi saat cakrawala menyambut senyuman sang surya
jika semalam mimpi enggan menemani lenamu
ijinkan aku tautkan asa pada nyala lilin yang menerangi peraduanmu
kukan rela meleleh bersama putihnya, agar matahatimu mengerti arti sebuah pengorbanan
** dan kuharap esok ada cerita baru antara engkau dan aku
SEMOGA
ijinkan aku menyusuri setiap penghujung malam untuk merakit sampan bersamamu
dari serpihan asa yang kembali kita susun agar bisa mendampingimu arungi bahtera .
saat karang perlahan terkikis lapis demi lapis , luka lama mulai kutepis
hangat tanganmu menangkup pada sepotong hati yang hampir mati
haruskah kubuka bilur luka ini padamu, juga airmata yang entah kapan kan mengering
biarkan kubungkus rapi dan membakarnya bersama duka dan piluku
bukankah tangan kita kini saling menggenggam erat, menatap harap pada hangat sang rahina
yang memberikan sinarnya pada taman hati yang mulai tertata rapi
seperti katamu, kuncup itu kan menjadi bunga
dan akan kau tempuh gunung untuk mewujudkannya
* SEMOGA
dari serpihan asa yang kembali kita susun agar bisa mendampingimu arungi bahtera .
saat karang perlahan terkikis lapis demi lapis , luka lama mulai kutepis
hangat tanganmu menangkup pada sepotong hati yang hampir mati
haruskah kubuka bilur luka ini padamu, juga airmata yang entah kapan kan mengering
biarkan kubungkus rapi dan membakarnya bersama duka dan piluku
bukankah tangan kita kini saling menggenggam erat, menatap harap pada hangat sang rahina
yang memberikan sinarnya pada taman hati yang mulai tertata rapi
seperti katamu, kuncup itu kan menjadi bunga
dan akan kau tempuh gunung untuk mewujudkannya
* SEMOGA
Subscribe to:
Comments (Atom)
I sent the black cloud in my eyes
Hoping the clouds will take it away
I skinned my body as the vein frozen...
Time peeled my tissues cell by cell
Dripping it onto a bowl of hot blooded soup
On the altar I confess in the name of honesty
With silence I absorbed the pain, waiting for the answer
And in the next moment, I saw you enjoying it with a great appetite
** terimakasih mbak Zara atas translate nya .. :)