Sunday, August 16, 2009

UNTUKMU, BAPAK

Untukmu, Bapak
Betapa sulitnya mencari serpihan kata untuk kupunguti dan menguntainya menjadi puisi. Satu persatu huruf enggan kujumput dan kurajut pada lembaran kanvas putih yang sedia kupersembahkan untukmu.

Ya Bapak, untukmu.
Untuk darah yang mengalir deras pada nadi-nadiku, untuk serpihan batu di kepalaku, untuk kokohnya karang di hatiku. Bukankah semua ini milikmu, Bapak ?

Pun jiwa patriot yang terpatri abadi di dada ini, bukan Ahmad Yani punya, bukan W.R Soepratman punya, bukan pula Oerip Soemohardjo punya, walau aku terlahir di kota yang sama. Kau yang mematrinya, Bapak.

Langit senja hanya mampu buat ragamu renta, tanpa bisa menendang egomu yang bersarang bagai batu karang. Kau tak pernah lelah untuk tetap bertahan, pun kala botol-botol infus mula menjadikanmu langganan.

Bersama sang waktu, karang di hatiku perlahan mengikis, mengapa tak kulihat karang di hatimu menipis ?

Jika kumemilih jalan bagai si bisutuli, bukan berarti aku tak berbakti.
Pada sudut kesunyian hati, setiap bait do'a tanpa henti kupanjatkan pada Illahi Rabbi untukmu, Bapak.

Untuk hidupmu, untuk kesehatanmu dan untuk dunia akheratmu.

Balada Perawan Terluka

berpendar lampu di trotoar
teriknya mentari, pengapnya hari
mengaduk isi perutku, memabukkan cacing-cacing kelaparan
duniaku hitam dipenuhi byarpet bintang-bintang, membuatku nyaris masuk longkang


terpontang-panting langkahku di jalanan
hingga tercompang-camping baju yang kukenakan
tatap mata keheranan ataukah menjijikkan yang kudapat
saat terlihat jelas jejak merah di seluruh tubuhku habis kau lumat


lihatlah ke mari !
jika kau tak juga menampakkan diri
akan kutanggalkan semua yang menutupi maluku
agar seisi jagat kemunafikan ini tahu, kaulah yang merobek-robek keperawananku, mencompang-campingkan kehidupanku!


bibir ini masih basah, bercak sisa perawanku masih merah
haruskah janin ini terlahir tanpa ayah, atau kursi aborsi kan menjadikannya jenazah ... ?


kenapa tak kau katakan sedari awal, jika kau seorang bajingan ?!



Telah Kutitipkan Bangsa dan Negara Ini Padamu

hamparan zamrut khatulistiwa
gemah ripah loh jinawi
murah sandang murah pangan
industri bagai hiasan negeri
tawa bocah-bocah sekolah memecah pagi
semua tersenyum dan beraroma harum
saat kumelangkah gagah
menitipkan bangsa dan negara ini
tanpa ragu padamu

kini kukembali
ternganga, terpaku berdiri

bangsaaaaaaattt ! kau apakan hingga negeriku seperti ini ????!!!