Sunday, August 16, 2009

UNTUKMU, BAPAK

Untukmu, Bapak
Betapa sulitnya mencari serpihan kata untuk kupunguti dan menguntainya menjadi puisi. Satu persatu huruf enggan kujumput dan kurajut pada lembaran kanvas putih yang sedia kupersembahkan untukmu.

Ya Bapak, untukmu.
Untuk darah yang mengalir deras pada nadi-nadiku, untuk serpihan batu di kepalaku, untuk kokohnya karang di hatiku. Bukankah semua ini milikmu, Bapak ?

Pun jiwa patriot yang terpatri abadi di dada ini, bukan Ahmad Yani punya, bukan W.R Soepratman punya, bukan pula Oerip Soemohardjo punya, walau aku terlahir di kota yang sama. Kau yang mematrinya, Bapak.

Langit senja hanya mampu buat ragamu renta, tanpa bisa menendang egomu yang bersarang bagai batu karang. Kau tak pernah lelah untuk tetap bertahan, pun kala botol-botol infus mula menjadikanmu langganan.

Bersama sang waktu, karang di hatiku perlahan mengikis, mengapa tak kulihat karang di hatimu menipis ?

Jika kumemilih jalan bagai si bisutuli, bukan berarti aku tak berbakti.
Pada sudut kesunyian hati, setiap bait do'a tanpa henti kupanjatkan pada Illahi Rabbi untukmu, Bapak.

Untuk hidupmu, untuk kesehatanmu dan untuk dunia akheratmu.

No comments:

Post a Comment