Thursday, July 30, 2009

Cinta Dalam Kidung Wali Hatimu

Sekian lama aku termenung menatap langit-langit kamarku, terpejam mataku menikmati senandung-senandung cinta yang kau kirimkan padaku. Satu persatu senandung itu mengalun, kurasakan dan semakin kuingin mengulang dan kembali mengulangnya . Kau katakan kidung itu mewakili hatimu ... cintamu ... cinta yang kau persembahkan untukku .
Ah ... kau begitu menyanjungku.


Aku tak pernah berfikir bahwa apa yang selama ini hanya ada dalam hayalan fantasiku benar - benar terjadi. Kau hadir di saat aku terombang-ambing dalam ketidak pastian, di antara dua jalan yang bercabang ... di antara keraguan-keraguanku tentang cinta. Aku telah limbung saat itu , aku hampir terjatuh dalam nikmatnya buaian cinta terlarang yang selama ini aku tentang. Aku menikmati buaian itu ... sangat menghayutkan. Dan kau hadir ... membangunkanku, membukakan mataku .. meyadarkanku bahwa masih ada cinta yang pantas aku dapatkan .


Aku terkesima memandangmu ... menatap kejujuran dari matamu, menatap sejuknya senyuman yang kau berikan padaku . Langkahmu begitu perlahan ... tenang tapi begitu pasti memasuki bilik cinta yang hampir kukunci mati. Aku mengagumimu ... hanya sanggup mengagumi sosokmu yang selalu menari-nari di setiap malamku. Aku tak berani berharap lebih ... aku tak mau meminta lebih ... jika kau balas sapaku hanya dengan sebuah senyumanpun ... hatiku sudah melambung.
Dan kau ... tak hanya memberiku senyuman ... kau datang mempersembahkan hatimu, mepersembahkan cintamu .... dengan kidung-kidung itu.


Senandung cinta masih mengalun merdu di telingaku. Mengiringi setiap desah nafasku ... mengiringi setiap langkah kakiku yang semakin yakin adanya dirimu dalam setiap nada indah itu. Kidung cinta yang perlahan-lahan mulai mengubah jalan hidupku. Tak perlu kau berkata-kata ... karena semua telah terwakili di situ . Dari kidung pertama yang melenakanku ... kidung-kidung seterusnya yang menyanjungku ... hingga kidung terakhir yang menguras hatiku untuk bertahan agar tak ada airmata yang tertumpahkan .


Aku masih menikmati senandung itu hingga saat ini ... ditemani tetes airmata yang ternyata tak mampu kubendung lagi. Ingin kuberlari menyeruak ilalang yang menghalangi pandangan, ingin melompat dan terbang tanpa harus melewati luasnya lautan ... untuk mencarimu, memelukmu dan persimpuh di kakimu memohon jadikan cinta kita tak hanya sekedar fatamorgana. Dan aku yakin kau akan meraih tubuhku dan merengkuhku dalam pelukan hangatmu ... sehangat rajutan asmara yang kau selimutkan di hatiku.


Karena katamu cinta adalah sebuah keyakinan ....
seyakin harapanku akan kesungguhan cintamu ..
Dan kidung itu masih mengalun di sini ....
mengharu biru hatiku ...


KIDUNG YANG MENJADI WALI HATIMU ...




*** dedikasi untuk seseorang yang pernah menggoreskan kenangan terindah di hatiku

TERIMAKASIH TUHAN, TERIMAKASIH MALAM

terimakasih malam, kau kembali datang
ijinkan aku bergelanyut pada lenganmu yang hitam
hitam pembawa segenap angan manusia membumbung ke awan
hitam yang menyediakan kotak kotak mimpi untuk berpetualangan ...

terimakasih Tuhan , Kau hadirkan malam
tempat aku bisa melukiskan semua hayalan
kedalam kanvas mimpi dari kotak kotak yang kau berikan
walau kadang melelahkan, menakutkan namun sungguh mengasyikkan


kembali kutelusuri lorong lorong mimpi yang sempat tertunda
kupilah pilah kembali kotak kotak pada dinding kelam malam
ada kotak manis yang akan mengantarkanku ke taman surgawi
ada kotak bengis yang akan membawaku pada alam seram mendebarkan


terimakasih Tuhan yang memberiku malam
dalam mimpipun aku masih Kau ijinkan memilih
dan kini aku lebih memilih si kotak bengis
karena dalam kotak bengis aku selalu menemukanMu
saat aku menjerit dalam situasi terjepit
selalu ada jalan menyudahinya


terimaksih Tuhan
terimaksih malam
terimakasih mimpi


* esok hari ... masih bolehkah aku mengunjungimu ...




**dedikasi untuk putriku : Rakyan Trisyabhuana Adinda Maharani

Cerita Tentang Luka translate in English by Zara Zetirra Zr

to the graying sky above
I sent the black cloud in my eyes
Hoping the clouds will take it away

I skinned my body as the vein frozen...
Time peeled my tissues cell by cell
Dripping it onto a bowl of hot blooded soup

On the altar I confess in the name of honesty
With silence I absorbed the pain, waiting for the answer

And in the next moment, I saw you enjoying it with a great appetite



** terimakasih mbak Zara atas translate nya .. :)

Cerita Tentang Luka

pada langit yang mengelabu
telah kutitipkan kabut hitam di mataku
berharap awan membawanya berlalu


kukuliti tubuhku saat nadi membeku
detik mengupas ariku satu-persatu
menjatuhkannya pada semangkuk kuah panas berdarah


di atas altar pengakuan kupersembahkan atas nama kejujuran
bersama senyap kusesap pedih menunggu jawab


pada detik berikutnya sepasang retinaku melihatmu menikmatinya begitu lahap ...


** sesudah ini bagian tubuhku mana lagi yang kau inginkan tuk disayat ?


Maaf, aku sedang cemburu

di antara panas khatulistiwa
dan asap anak krakatau yang makin menggelora


ada riak

menyesak

menjadi ombak

bumiku bergejolak


kuketuk dinding hatiku yang bergemuruh
terdengar suara lirih terhimpit perih


** maaf, aku sedang cemburu ...





dedikasi untuk seseorang yang bersemayam di hati ...

Masih Banyak Cinta Untukmu

kau adalah segumpal darah, yang terisi jiwa dan selembar kesucian
kumemelukmu atas nyawa yang kupertaruhkan


kutuntun tanganmu tuk menyusuri tapaktapak sunyi
kuajari kau berlari, hingga kaki ini tak lagi meragu untuk pergi


jika kini kau terjatuh, bukan kau tak patuh
ataupun alam ini tak sudi menjadi tempatmu berteduh


dongakkan kepalamu, tetapkan langkahmu
hidup bukan untuk kau maki dan ratapi
rengkuhlah bersama mimpimimpimu yang masih menanti


lihatlah, matahari masih tetap menyapa pagi
rembulan tetap hadir di setiap purnama


hapus airmatamu, hadapi sapa kehidupanmu
jatuh tak berati runtuh, tapi mengajarkanmu menjadi lelaki tangguh


yakinlah bersama do'a-do'a mama


di sini masih banyak cinta untukmu, anakku ...




** dedikasi untuk putra sulungku : Rengga Aditya Pratama

NGENTENI AKU ... { GEGURITAN }

nglumpukake kembang setaman
nambah wangi raga kang dieman
supaya ngresep sakjeroning ati
wangi raga, wangine ati, lebur dadi siji


tresnaku madhet marang sliramu
trima kaliren ngenteni esemmu
lali mangan, lali dandan, lali turu
ngarep-arep kelebating wewayanganmu
ngabangeke waru warna biru ...


duh kangmas pujaning atiku ...
abang irenge srengenge sineksen dening mripatku
pahit asinne donya wis dadi sandhanganku
sing tak jaluk aja mung ucap ulatmu
katresnan sejati ora kaya dolanan golekan kayu


disekseni kerlip kemayu lintang sewu lan endahing cahya rembulan
sliramu ngucap janji setya tuhu, ngenteni tekaku ... urip nyawiji .... nganti tumekaning pati

Catatan dari Dinding Facebookku

dari George Soedarsono Esthu

CATATAN

kutulis catatan ini untuk mengenangmu
dalam kebimbangan aku masih menunggu

ah, seandainya engkau bisa bersamaku waktu demi waktu
merajut angan-angan akan masa depan yang tenteram
mengolah tanah, membuka ladang

kutunggu kau di musim semi nanti
bunga persik warna dadu dan ungu dimana-mana
dan aku ingin sekali mengusap salju
yang masih melekat di rambutmu


-------------- *** ---------------------------

jawaban :

SENYUMMU DI PINTU DERMAGA


hening malam membawa bisikan bayu
dupa tanah dewata beraroma rindu
gelombang samudera tawarkan kedamaian
pada buritan kapal wajahmu terkenang


pelayaran ini terlalu sunyi untukku
setiap dermaga meninggalkan hampa
bahkan kidung cinta tak lagi terasa mendayu
saat petikan gitarku tak mampu lagi wakili kegalauan jiwa


kekasih, ingin rasanya kuputar haluan
membawa kembali layarku pulang
adakah dermagamu masih menunggu
andai kau tau, mendustai hati membuatku hampir mati


bulan masih indah malam ini
haruskah kumenunggu hingga musim semi
sementara batin tak kuasa lagi menahan diri


kuharap ada senyummu di pintu dermaga, menyambut bingkisan salju yang tetap terjaga putihnya



-------------------- *** -----------------------


terimakasih mas George Soedarsono Esthu atas catatannya di wall saya
semoga jawaban puisi saya gak memalukan yaa hehehe

salam hormat untuk anda :)

Padamu ... Duri

pada ujungmu yang meninggalkan luka ....

menyisakan perih


lihatlah !

aku masih tegar berdiri bersama setetes darah yang tersisa ...

Andai Kau Tahu , Nak ...

** sepotong bulan pucat hiasi pagiku
pada ujungnya kupasang sebuah gelas kristal
untuk menampung tetesan darah yang tak henti memintal resah

mari kemari wahai anakku
lihatlah telapak tangan ibumu
saat kau berjarak sejengkal
hingga kini berjutajuta hektar
hanya lantunan do'a kutiupkan di sana
tidakkah kau lihat senyum Tuhan ramah menyapa ?

ini pangkuanku masih tetap untuk rebahmu
ini bahuku selalu menanti sandaranmu
kedua tanganku tetap hangat memelukmu
mengapa harus kau hitung kancing baju untuk berjalan ke arahku ?

adakah kau temukan wajah ibumu pada langit yang mengelabu
airmata sudahlah kutitipkan pada derasnya hujan yang mengguyurmu
dengarkanlah isak ibumu yang mampu memecahkan gunung batu
apakah kau masih saja ingin berlalu , wahai anakku ?


andai kau tahu nak , kuah sup yang kau nikmati adalah darah dan peluh ibumu ...


Denting Piano

denting piano bernada sumbang
mengetuk dinding malam di keheningan
saat panggung kota di ambang lengang
menghentak sekawanan kelelawar jalanan


kala menyapa sepotong hati
memoles merah hiasi jentik jemari
pada bening bola mata perempuan
yang dipermainkan neraca kegelisahan


harap dan cemas mengusik nurani
akankah keanggunan anggrek bulan
dengan lilitan jasmine yang tak suci
memadu dalam jambangan ketidak pastian ...


malam beringsut perlahan
kelelawar bertukar tempat dengan camar
sementara denting piano masih saja bernada sumbang ...

Cinta dari Kota Tua

kau menyapa di ujung jenuhku
membawa cerita tentang kota tua
di mana ariari kita dikubur pada tanah yang sama
serta aroma masakan ibuku dan ibumu, bahkan jerit lokomotif
yang mengepulkan asap berwarna serupa


saat gelak menyibak jejak nostalgia
kisah kita yang mengepompong kini terbuka
menjelma harubiru kupukupu bersayap pelangi
menyusuri sepanjang jembatan memori yang terlewati


mungkin aku bukan perawanmu yang menimbang pinangan
dengan janji mahkota kesucian
aku hanya ingin terlahir dan kembali pada fitrahku
untuk melengkapi tulang rusukmu ...


** seperti pintamu yang mengajakku menikmati masa tua di kota legenda

JADIKAN AKU PELACURMU

jika kau gundah
jiwamu meronta gelisah
menggerayang malam jahanam
melontarkan hasrat di tepi jalanan
tak kah kau iba pada birahimu yang terhina
mengejang sesaat dalam nikmat yang kau lumat


mengapa tak kau bergeming dan berpaling
mengendus wangi parfum pada tubuhku
melepas belenggu kejantananmu
membakar urat- urat penuh syahwat
yang tak pernah bisa kau rawat


lepaskan jalinan yang mengikat
di antara tali kutang yang merentang
bersama aroma alkohol yang menyengat
padukan ... satukan ... tak perlu moral kau pikirkan !!


aku tak butuh ikatan utuh
jangan pernah menjerat kakiku pada hidupmu
biarkan hasrat kita memadu tanpa belenggu
asal kau tak lagi menyusuri malam membeli birahi tepi jalan

malam ini aku meminta padamu dengan segala hormat ...

** jadikan aku pelacurmu !


LELAKI TUA

* bersandar lemas di kursi malas
pandangan tuamu menerawang tanpa batas ....


kau membabtis diri sebagai raja sebuah huma
sementara anak istri hanyalah kawula pengikut sabda
ucapmu adalah veto, lakumu titah ratu
namun kau lupa, bahwa roda akan membawamu ke langit senja
dan dalam perjalananmu, setiap titik debu menyerap egomu satu persatu


** hanya wanita mulia itu yang sanggup menambal helai kesabaran setiap kali kau mengoyaknya ...

Untukmu Yang Bertopeng

bagaimana aku terus menulis
jika setiap goresan penaku bertinta darah
bagaimana aku berani bernyanyi
jika kidung itu menjadi lolongan menyayat hati

bahkan hujan dan airmata tak nampak beda
di antara keduanya mendatangkan nestapa
saat kau renggut semua dengan keliaranmu
saat itu juga dunia bagiku hanyalah debu


jangan paksa aku mengangguk , pada senyum dan jura palsumu
karena kutahu kau hanyalah serigala pencari mangsa ..

dan di balik topeng malaikatmu kulihat seringai itu mengalir liur bisa beracun !


Pilar Pilar Kehidupan

pada pilarpilar yang menjulang dengan keindahannya
.......pada pilarpilar yang terbangun oleh merdu nyanyian burung gereja


......kuberdiri di antara empat pilar yang beratap hampir sempurna
masih bisa kuberlindung dari panas yang mengintip dan hujan yang memercik


.............pada pilarpilar yang sangat aku idamkan ................
kulihat ada retak oleh patukan tajam burung gereja yang ingin merusaknya ...

: TELAK !

SAMSARA



ayu merindu putihMu
dalam samsara yang membelenggu

ayu memekik memanggilMu
lontarkan samsara yang mencengkeram jiwa


mengukir tajam derita
menjadi samsara sahabat setia


ayu bertanya
bilakah samsara hendak melepaskannya


ayu .... semakin ayu ...
kala samsara enggan bicara


ayu ... bertambah ayu ...
saat keikhlasan merengkuh samsara dalam hidupnya


bersama samsara menjadikan ayu gemulai yang perkasa ....

Tarian Angsa di Antara Ranting Flamboyan




tiupan angin kacaukan mendung
hadirkan semburat tajam mentari berselindung
kilau danau tenang tanpa kecipak ikan
pada tepiannya ... angsa putih tertegun mengulum kecewa


kepala mendongak tersangga leher jenjang
memandang mekar flamboyan semarakkan musim kering
takjub mata terkedip pesona
dalam keheningan abaikan rasa gulana


dan saat langit kembali kelabu
sang angsa menari indah di antara ranting flamboyan
kepakkan sayap menikam bimbang
karena ternyata kering dan hujan saling bertautan


** seperti padunya tarian angsa bersama seri flamboyan
tak selamanya kering hadirkan gersang

CERITA BARU

di antara sisi langit rembang petangmu
kulihat jingga mengurai luka
terbersit hati tuk sematkan rendarenda kasih
sebagai pembalut goresan yang tak sedap dipandang mata


adakah kan kau sapa lambaian cemara, yang tak pernah lelah meliukkan tubuh demi damainya tepi pantai, hingga nyanyian camar di sepagi tadi saat cakrawala menyambut senyuman sang surya


jika semalam mimpi enggan menemani lenamu
ijinkan aku tautkan asa pada nyala lilin yang menerangi peraduanmu
kukan rela meleleh bersama putihnya, agar matahatimu mengerti arti sebuah pengorbanan


** dan kuharap esok ada cerita baru antara engkau dan aku

SEMOGA

ijinkan aku menyusuri setiap penghujung malam untuk merakit sampan bersamamu
dari serpihan asa yang kembali kita susun agar bisa mendampingimu arungi bahtera .

saat karang perlahan terkikis lapis demi lapis , luka lama mulai kutepis
hangat tanganmu menangkup pada sepotong hati yang hampir mati


haruskah kubuka bilur luka ini padamu, juga airmata yang entah kapan kan mengering
biarkan kubungkus rapi dan membakarnya bersama duka dan piluku


bukankah tangan kita kini saling menggenggam erat, menatap harap pada hangat sang rahina
yang memberikan sinarnya pada taman hati yang mulai tertata rapi


seperti katamu, kuncup itu kan menjadi bunga
dan akan kau tempuh gunung untuk mewujudkannya


* SEMOGA