Saturday, October 10, 2009
Friday, October 2, 2009
Lebaran Sumbang
terkumpul banyak tawa dari banyak kepala yang terdengar sumbang di antara riuhnya kata maaf, peluk cium dan airmata.
kita, hanyalah nyawanyawa yang mengingkari hati mencoba saling memahami bahwa ada peperangan yang bergejolak dan hanya bisa meledak kala ranjang dan bantal terbelah oleh lelah.
seiring gema takbir sepagi tadi, hingga sisasisa masakan yang kita nikmati di atas padang rumput tanpa tikar tergelar menjelang petang, ada gelak riang ....
walau terdengar begitu sumbang
kita, hanyalah nyawanyawa yang mengingkari hati mencoba saling memahami bahwa ada peperangan yang bergejolak dan hanya bisa meledak kala ranjang dan bantal terbelah oleh lelah.
seiring gema takbir sepagi tadi, hingga sisasisa masakan yang kita nikmati di atas padang rumput tanpa tikar tergelar menjelang petang, ada gelak riang ....
walau terdengar begitu sumbang
Sepenggal Kisah
sepenggal kisah yang kutitipkan pada rembulan, terbungkus rapi tanpa dinodai percikan ludah angin malam yang nakal. karena sejak mula langit menggelar terpal hitam di atasnya, hingga sang surya mulai mengetuk pintu jagad raya, dewi malam itu tak juga menampakkan keindahannya.
akahkah sepenggal kisah itu akan tetap terbungkus bersama harapanku yang pupus ...
aku akan tetap menunggu kedatanganmu, hai rembulan ...
akahkah sepenggal kisah itu akan tetap terbungkus bersama harapanku yang pupus ...
aku akan tetap menunggu kedatanganmu, hai rembulan ...
Bayanganmu
sadarkah, bahwa kau berjalan tanpa bayangan. dia tertinggal di sini, dan enggan mengikutimu lagi. karena dia tahu, hatiku telah penuh oleh gumpalan rindu yang setiap saat kau tiupkan dengan kejam dan berlalu tanpa perasaan.
dan lihatlah, aku tersenyum puas saat bayangan itu mencumbu dan mendekapku hingga tertidur pulas ...
dan lihatlah, aku tersenyum puas saat bayangan itu mencumbu dan mendekapku hingga tertidur pulas ...
Surat Cinta
hari ini cepatlah pulang selepas kau tuntaskan tetesan peluhmu, dan mendekatlah pada sebuah meja kecil di sudut ruang kerjamu, karena di sana telah kutuliskan sebuah surat cinta untukmu, kekasihku ...
secangkir kopi dengan gula yang tak sempat kuaduk pun telah siap menemanimu mengeja kata demi kata yang kususun tanpa mampu kubaca, karena aku malu pada hatiku yang tak pernah mau menahan diri untuk tak mengungkap semua rahasia hati ..
sayang, maukah kau menyimpan surat cinta itu di dalam hatimu dengan rapi jika telah selesai kau baca nanti ?
dan andai nanti kita bertemu, anggaplah kau tak pernah tahu tentang surat itu
karena aku terlalu malu untuk mengatakan bahwa aku mencintaimu ..
secangkir kopi dengan gula yang tak sempat kuaduk pun telah siap menemanimu mengeja kata demi kata yang kususun tanpa mampu kubaca, karena aku malu pada hatiku yang tak pernah mau menahan diri untuk tak mengungkap semua rahasia hati ..
sayang, maukah kau menyimpan surat cinta itu di dalam hatimu dengan rapi jika telah selesai kau baca nanti ?
dan andai nanti kita bertemu, anggaplah kau tak pernah tahu tentang surat itu
karena aku terlalu malu untuk mengatakan bahwa aku mencintaimu ..
Mencintaimu ..
seperti kumenyeduh secangkir kopi saat mentari tersenyum hangat, pun ketika langit berselaput awan gelap. manis dan getirnya hanya terasa saat lidah mengecap. namun kehangatan itu menjalar keseluruh urat nadi yang membuatku terpejam menikmati betapa manis dan getir menyatu dengan darah yang memberiku gairah mencipta pelangi setelah guyuran hujan sepanjang hari.
mencintaimu
ah, hanya kau dan aku yang tahu ...
mencintaimu
ah, hanya kau dan aku yang tahu ...
Kembali Kupilih Sunyi
sunyi ini kembali terpilih untuk menemaniku, membelai hati dan meluruhkan kegundahanku.
saat sepasang lenteraku tak lagi mampu memandang bayangmu pada bening permata , semua memudar seiring rasa memelas, pada setiap titik hujan yang membuyarkan angan.
aku terkurung pada dua pilihan, di mana cinta harus kujalin dengan menutup mata, ataukah realita manusiawi yang harus mengalahkan ego duniawi. aku tak buta, tapi hatiku pun punya rasa, rasa yang sudah tertanam begitu dalam, hingga aku tak berani mencabutnya. berikan tanganmu untuk melakukannya, aku pasti mampu menikmati kesakitan atas namamu.
pada ujung malam yang masih setia menanti dengan bahunya untukku bersandar, kurentangkan kedua tangan dan merengkuhnya dalam dekap kerinduan. kucumbui kesunyian dengan birahi terkunci, tanpa rasa dan keinginan mencapai puncak kepuasan. aku ingin bermain cinta bersamanya tanpa hendak berpaling pada selingkuh semu yang melahirkan resah.
kembali kupilih sunyi, menyimpan rindumu pada lipatan malam, mengecup indah bayangmu bersama salam penghabisan ...
saat sepasang lenteraku tak lagi mampu memandang bayangmu pada bening permata , semua memudar seiring rasa memelas, pada setiap titik hujan yang membuyarkan angan.
aku terkurung pada dua pilihan, di mana cinta harus kujalin dengan menutup mata, ataukah realita manusiawi yang harus mengalahkan ego duniawi. aku tak buta, tapi hatiku pun punya rasa, rasa yang sudah tertanam begitu dalam, hingga aku tak berani mencabutnya. berikan tanganmu untuk melakukannya, aku pasti mampu menikmati kesakitan atas namamu.
pada ujung malam yang masih setia menanti dengan bahunya untukku bersandar, kurentangkan kedua tangan dan merengkuhnya dalam dekap kerinduan. kucumbui kesunyian dengan birahi terkunci, tanpa rasa dan keinginan mencapai puncak kepuasan. aku ingin bermain cinta bersamanya tanpa hendak berpaling pada selingkuh semu yang melahirkan resah.
kembali kupilih sunyi, menyimpan rindumu pada lipatan malam, mengecup indah bayangmu bersama salam penghabisan ...
Lentera Tak Bertuan
Lentera Tak Bertuan
sebuah lentera tak bertuan
menepi pada sisi keheningan
tetap berpendar pertahankan cahaya buramnya
demi sekotak harapan yang diidamkan
tak perlu dipertanyakan
mengapa ia masih tetap menyala
walaupun jiwa tak lagi bernyawa ...
sebuah lentera tak bertuan
menepi pada sisi keheningan
tetap berpendar pertahankan cahaya buramnya
demi sekotak harapan yang diidamkan
tak perlu dipertanyakan
mengapa ia masih tetap menyala
walaupun jiwa tak lagi bernyawa ...
Subscribe to:
Comments (Atom)