seperti kumenyeduh secangkir kopi saat mentari tersenyum hangat, pun ketika langit berselaput awan gelap. manis dan getirnya hanya terasa saat lidah mengecap. namun kehangatan itu menjalar keseluruh urat nadi yang membuatku terpejam menikmati betapa manis dan getir menyatu dengan darah yang memberiku gairah mencipta pelangi setelah guyuran hujan sepanjang hari.
mencintaimu
ah, hanya kau dan aku yang tahu ...
No comments:
Post a Comment