terkumpul banyak tawa dari banyak kepala yang terdengar sumbang di antara riuhnya kata maaf, peluk cium dan airmata.
kita, hanyalah nyawanyawa yang mengingkari hati mencoba saling memahami bahwa ada peperangan yang bergejolak dan hanya bisa meledak kala ranjang dan bantal terbelah oleh lelah.
seiring gema takbir sepagi tadi, hingga sisasisa masakan yang kita nikmati di atas padang rumput tanpa tikar tergelar menjelang petang, ada gelak riang ....
walau terdengar begitu sumbang
No comments:
Post a Comment