ijinkan aku menyusuri setiap penghujung malam untuk merakit sampan bersamamu
dari serpihan asa yang kembali kita susun agar bisa mendampingimu arungi bahtera .
saat karang perlahan terkikis lapis demi lapis , luka lama mulai kutepis
hangat tanganmu menangkup pada sepotong hati yang hampir mati
haruskah kubuka bilur luka ini padamu, juga airmata yang entah kapan kan mengering
biarkan kubungkus rapi dan membakarnya bersama duka dan piluku
bukankah tangan kita kini saling menggenggam erat, menatap harap pada hangat sang rahina
yang memberikan sinarnya pada taman hati yang mulai tertata rapi
seperti katamu, kuncup itu kan menjadi bunga
dan akan kau tempuh gunung untuk mewujudkannya
* SEMOGA
No comments:
Post a Comment