Thursday, March 8, 2018

Berjalan di Bawah Hujan

derasnya tak halangi
tetesan peluh
membasuh gelisah
siang nan gundah
tiada keramahan
pada diri yang kelelahan
pun pepohonan rindang
bahkan ilalang
kuharap menawarkan beranda
untuk persinggahan
semua sibuk meratapi diri
seperti suara kecapi
menjelma desingan peluru di telingaku
hingga tembang anak negeri
tak lagi merdu di sini
kacau balau
porak poranda
oleh corong-corong
atas nama kebenaran
memutar fakta
membingungkan minda para jelata
tanah kering berubah banjir
suara-suara sumbang dan nyinyir
semakin hitamkan pandangan
bumi berputar bagai gasing
membuat mual dan pusing
hujan yang selalu dinanti
mengapa akhirnya kau khianati?


No comments:

Post a Comment