Menyisir sepanjang tepian malam
Mendulang segenggam mimpi
Berharap sebutir yang berkilau
Akan menjadi tumpuan untuk tegak berdiri
Tetesan peluh tak lagi terasa asin
Perut yang semakin menipis
Oleh kencangnya ikatan kemiskinan
;Bahkan air liur pun tiada mampu basahi kerongkongan
Bagai kemarau panjang
Hatimu retak berpetak
Gerimis yang kau nanti
Hanya fatamorgana tak bertepi
Jarum jam bergerak
Jantung masih berdetak
Jawabmu, saat kutanya
sampai kapan
kau akan tetap
menjadi pendulang mimpi
mimpi itu menyenangkan, bukankah kata orang2 tua dulu, bunga tidur, mbak?
ReplyDelete