Wednesday, August 8, 2012

Pendulang Mimpi


Menyisir sepanjang tepian malam
Mendulang segenggam mimpi
Berharap sebutir yang berkilau
Akan menjadi tumpuan untuk tegak berdiri

Tetesan peluh tak lagi terasa asin
Perut yang semakin menipis
Oleh kencangnya ikatan kemiskinan
;Bahkan air liur pun tiada mampu basahi kerongkongan

Bagai kemarau panjang
Hatimu retak berpetak
Gerimis yang kau nanti
Hanya fatamorgana tak bertepi

Jarum jam bergerak
Jantung masih berdetak
Jawabmu, saat kutanya sampai kapan
kau akan tetap menjadi pendulang mimpi


Bogor, 150612
** DM **

No comments:

Post a Comment